Manajemen Sejarah Berbasis Komunitas: Pengembangan Kawasan Kauman sebagai Living Museum

https://doi.org/10.22146/bb.37934

Nur Aini Setiawati(1*)

(1) Department of History, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
(*) Corresponding Author

Abstract


One of the community services developed by the Faculty of Cultural Sciences provides an assistance to the community of Kauman village in preparation for Kauman village development as Yogyakarta living museum. In this case, Kauman area will serve as a kind of village that has a sustainable cultural tradition since the founding of Ngayogyokarto Hadiningrat Sultanate. In accordance with the concept of the living museum, many kinds of ideas will be implemented to regain the old cultural traditions that were taken from interviews with Kauman elders, community fgures, and young people about the history of Kampung Kauman. Te interviews are basically an intangible heritage which its narrative was attached to the landscape of Kauman village. Te results obtained from the interviews is a collective memory of Kauman village society to the development history of Kauman village. Te compilation and determination of the location, the building, the narrative house of historical formation, and the tradition that is carried out regularly in one year is the initial basis for the implementation of the historical living museum.


Keywords


Kauman; Living Museum; Collective Memory

Full Text:

PDF


References

Buku dan Jurnal

Ahmad Sarwono bin Zahid dan Shofrotum binti Husein Al-Aydrus. (2013). K.H.R.Ng. Ahmad Dahlan: Pembaharu, Pemersatu, dan Pemelihara Tradisi Islam. YogyakartaL Mitra Aksara Mulia.

Alfan, Ibrahim. (1987). Perang di Jalan Allah. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Atmojo, Junus Satrio. (1989/1999). Masjid Kuno Indonesia, Proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Pusat.

Basundoro, Purnawan. (2016). Pengantar Sejarah Kota. Yogyakarta: Ombak.

Darban, Ahmad Adaby. (1994). Sejarah Muhammadiyah Bagian I. Yogyakarta: Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Pustaka.

Darban, Ahmad Adaby. (2000). Sejarah Kauman: Menguak Identitas Kampung Muhammadiyah. Yogyakarta: Tarawang.

Darban, Ahmad Adaby (2005). Kaum Santri Melawan Kolonial: Dari Hizbullah hingga Angkatan Perang Sabil (APS) di Yogyakarta. Bandung: Forum Diskusi dan Pameran 60 Tahun Indonesia Mereka dalam Dalam Lintasan Sejarah.

Jandra, Mifedwil. (1989-1990). Perangkat/Alat-alat dan Pakaian Serta Makna Simbolis Upacara Keagamaan di Lingkumgan Keraton Yogyakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Maarif, Syafi. (1986). Islam dan Masalah Kenegaraan, Jakarta: LP3ES.

Manshur, Fadlil Munawwar. (1998). Budaya Pesantren dan Tradisi Pengajian Kitab, dalam Jurnal Humaniora No. 8 tahun 1998.

Manshur, Fadlil Munawwar. (1993). Suara Aisyiyah Volume 68. Yogyakarta: Yayasan Penerbit Pers Aisyiyah.

Manshur, Fadlil Munawwar. (1995). Buku Kenangan 50 Tahun Reublik Indonesia di Yogyakarta, Sebuah Lintasan Sejarah. Yogyakarta: Panitia Gabungan Peringatan HUT RI ke-50 Kemerdekaan RI Bhakti Pertiwi Prop. DIY.

Moedjanto. (1994). Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman. Yogyakarta: Kanisius.

Ricklefs, M.C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: PT. Serambi Ilmu

Semesta.Nur Aini Setiawati - Manajemen Sejarah Berbasis Komunitas | 121

Sairin, Weinata. (1995). Gerakan Pembaruan Muhammadiyah, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Setiawati, Nur Aini. (1988). “Askar Perang Sabil: Studi Sosio-Religius Dalam Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia Di Daerah Istimewa Yogyakarta 1945-1949”, Skripsi FIB, UGM)

Soemohadiwidjojo, Rhien (2013). Bung Karno Sang Singa Podium. Second Hope.

Surjomihardjo, Abdurrachman. (2000). Kota Yogyakarta: Sejarah Perkembangan Sosial, Yogyakarta: Yayasan Untuk Indonesia.

Sutrisno Kutoyo, (1996). Sri Sultan Hamengku Buwono IX: Riwayat Hidup dan Perjuangan. Jakarta: Mutiara Sumber Widya.

Tashadi, dkk (1991). Sejarah Revolusi Kemerdekaan (1945-1949) di Daerah Istimewa Yogyakarta. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.

Tashadi, dkk, (2000). Keterlibatan Ulama di DIY pada Masa Perang Kemerdekaan Periode 1945-1949. Jakarta: Depdiknas.

Wawancara

Wawancara dengan Pak Gatot, salah satu pengurus Saka Wisata Masjid Kauman pada Jumat, 10 November 2017.

Wawancara dengan Mbah Junadah selaku anggota Nasyiatul Aisyiyah pada saat revolusi, pada Sabtu, 6 Mei 2017.

Wawancara dengan Bapak Ibu Istinaroh

Wawancara dengan Ibu Hadhiroh, Ibu Kusniah, Bapak Abunda Farouk, Bapak Budi Seiawan

Sumber Elektronik

Hayati, Latifa. (2009). Peran ‘Aisyiyah dalam Internalisasi Nilai-Nilai Muhammadiiyah di Kampung Kauman Yogyakarta. Diambil dari http://digilib.uin-suka.ac.id/2930/ dan diakses tanggal 11 November 2017.

Kurniawan, Bagus. (2012). Pasar Sore Kuliner di Kampung Kauman. Diambil dari https://m.detik.com/news/foto-news/d-1972798/pasar-sore-kuliner-di-kampungkauman/5#detailfoto dan diakses tanggal 11 November 2017.

Nurhadi, N. (2015). Bab III Dinamika Perubahan Sosial Ekonomi Masyarakat Kauman Yogyakarta Tahun 1916-19990. Diambil dari http://digilib.uinsby.ac.id/3863/6/ Bab%203.pdf dan diakses tanggal 11 November 2017.

Sejarah Batik Yogyakarta. Diambil dari http://jogjaworldbatikcity.id/sejarah-batikyogyakarta/ dan diakses tanggal 10 November 2017.

Sejarah Motif Batik Sudagaran dan Penjelasannya. Diambil dari http://batik-tulis.com/ blog/batik-sudagaran/ dan diakses tanggal 11 November 2017.



DOI: https://doi.org/10.22146/bb.37934

Article Metrics

Abstract views : 904 | views : 1533

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 Bakti Budaya

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

ISSN: 2655-9846 (Online)


-BB's WebStat