Budaya merokok pada wanita di Suku Tengger Jawa Timur

https://doi.org/10.22146/bkm.36505

Luqman Afifudin(1*), Retna Siwi Padmawati(2), Fatwa Sari Tetra Dewi(3)

(1) Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan dan Kedokteran Sosial, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada
(2) Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan dan Kedokteran Sosial, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada
(3) Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan dan Kedokteran Sosial, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada
(*) Corresponding Author

Abstract


Latar Belakang : Prevalensi jumlah perok wanita  terus mengalami kenaikan. Sebagian besar wanita Suku Tengger yang tinggal di wilayah Kabupaten Lumajang memiliki kebiasaan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan budaya perilaku merokok wanita Suku Tengger.

Metode : Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Informan didapatkan dengan metode snowball dan berdasarkan hasil informasi dari kepala desa dan kader kesehatan, kemudian informan dipilih mengunakan metode purposive berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditetapkan.Informan utama adalah wanita Suku Tengger yang merokok dengan jumlah informan sebanyak 9 orang. Informan pendukung berjumlah 13 orang yang terdiri dari 8 orang suami informan utama dan 5 orang yaitu kepala desa, dukun adat, tokoh masyarakat, bidan desa, dan petugas penyuluh  pertanian. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan observasi.

Hasil   : Rokok menjadi salah satu bahan sesaji Gedang Ayu atau Pitrah. Desa Argosari adalah Desa Kalapatra yang berarti memiliki perbedaan dalam tempat, waktu dan kebiasaan berimplikasi pada budaya atau kebiasaan wanita Suku Tengger dalam hal merokok sehingga wanita merokok di Suku Tengger adalah hal yang biasa dan tidak sama dengan daerah lainnya. Perspektif gender dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga menjadi faktor pendukung wanita memiliki kebiasaan merokok. Aspek sosial budaya yang berlaku di masyarakat mendorong perilaku merokok wanita Suku Tengger. informan mengetahui rokok dan dampaknya dari gambar dan tulisan peringatan kesehatan pada kemasan rokok. Upaya promosi kesehatan dalam pengendalian tembakau dilakukan oleh petugas kesehatan melalui kegiatan Program Perencanaan Persalinan dan pencegahan Komplikasi (P4K) dan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).

Kesimpulan : Rokok menjadi bagian dari budaya Suku Tengger di Desa Argosari. Perilaku merokok menjadi budaya wanita suku tengger dan merokok adalah hal yang biasa karena Desa Argosari adalah Desa Kalapatra. Namun saat ini wanita remaja banyak yang tidak merokok termasuk semua ibu hamil  yang berusia muda tidak ada yang merokok. Orang yang disegani di masyarakat seperti kepala desa, dukun adat dan tokoh masyarakat juga tidak merokok. Persepketif gender dan aspek sosial budaya yang berlaku di masyarakat Tengger menjadi faktor pendukung perilaku merokok wanita Suku Tengger.

Culture of Tenggerese women smoking

Background: The prevalence of the number of female smokers in Indonesia continues to increase. On the other hand, cigarettes are an integral part of the culture of society in certain communities. Most of the Tenggerese women in Argosari- Lumajang have long-standing smoking habits. This study aims to describe the culture of Tenggerese women smoking behavior.

Method: This research is a qualitative research with ethnography approach. The informant was obtained by snowball method and based on the result of information from the local leader and health cadre, then the informant was chosen using purposive method based on predetermined inclusion criteria. The main informant is Tengger Tribe women who smoke with the number of informants as much as 9 people. Supporting informants consisted of 13 people consisting of: primary informant husband (8 persons), local leader, local hindu’s priest, local public figure, midwife, and agricultural officer. Data collection was done by in-depth interview and observation.

Result: In Tenggerese culture, cigarettes become one of ingredients in offerings of gedang ayu and pitrah. Smoking became a tradition of Tenggerese people. Cigarettes are given to guests and people who help in custom events. A gender perspective in having multiple roles and income encourages Tenggerese women to smoke. Some social aspects in the community affect the smoking habits of Tenggerese women. As; smoking can strengthen the sense of brotherhood, smoking is used to repel mrutu when working in the fields, smoking can warm the body, and smoking behavior has been done since childhood, when working in the fields. Informants know the cigarette and its impact from health warning pictures and writing on cigarette packaging. Health promotion efforts by village health workers include: counseling of pregnant women and families through activities of birth planning and prevention of complications programs and counseling of school students through school health activities (Usaha Kesehatan Sekolah).

Conclusion: Smoking behavior is a tradition of Tenggerese women. In order to improve tobacco control, it is advisable to the health center at sub-district level (puskesmas) and district public health office to involve key community leaders such as local leader, local hindu’s priest and local public figure were not smoking to become role models in creating a smoke-free home environment.


Keywords


smoking culture; Tenggerese women; gender perspective; health promotion




DOI: https://doi.org/10.22146/bkm.36505

Article Metrics

Abstract views : 84

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2018 Berita Kedokteran Masyarakat

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Berita Kedokteran Masyarakat ISSN 0215-1936 (PRINT), ISSN: 2614-8412 (ONLINE).

Indexed by:


Web
Analytics Visitor Counter