Aspek budaya, agama, dan medis dari praktik sunat anak perempuan di desa di Jawa Tengah

https://doi.org/10.22146/bkm.38984

Siti Muawanah Hamidah(1*), Menik Sri Daryanti(2), Atik Triratnawati(3)

(1) Stikes Bakti Utama Bakti Utama Pati
(2) Universitas Aisyiyah Yogyakarta
(3) Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada
(*) Corresponding Author

Abstract


Cultural, religious, and medical practices of female circumcision in a village in Central Java

Background: Female circumcision is the belief that is part of Islamic religious teachings that must be obeyed. In addition, female circumcision is also based on the belief in the ancestral tradition that must be preserved. Understanding of circumcision, in general, is cutting some of the genital organs. Circumcision is not only performed on men but also in women. One of the areas in Java that still carry out female circumcision is Penanggungan Village, Gabus District, Pati, Central Java. The community of Penanggungan Village believes that female circumcision is mandatory to be performed as in male circumcision. Purpose: of this study was to find out the reasons for the practice of female circumcision and medical, religious and cultural considerations in maintaining the practice of circumcision of girls in Penanggungan Village, Gabus Subdistrict, Pati, Central Java. Methods: used is a qualitative research method. The research location is located in Penanggungan Village, Gabus District, Pati, Central Java. The subjects of the research were Penanggungan Village people who circumcised their daughters as many as 20 informants. Data collection uses observation, in-depth interviews, and documentation. Data validity using the triangulation technique. Data analysis uses a qualitative data collection phase consisting of data collection, data reduction, data presentation, and conclusion. Results: The practice of female circumcision that is still running in Penanggungan Village until now motivated by the belief that the practice of female circumcision that must be obeyed. The practice of female circumcision itself becomes a tradition existing in the village of Penanggungan but is not considered a great tradition such as male circumcision, so in its implementation is celebrated in a limited or simple way. The process of the practice of female circumcision takes place in 3 stages, namely the preparation stage, the implementation stage and the stage after the implementation. The process of conducting female circumcision is performed by a midwife. The community still runs the tradition of female circumcision because it is believed that the community can eliminate the suker (daughters) of the child brought by the child since the mother's womb, besides the practice of female circumcision has been running since their parents. This is already inherited as an ancestral heritage, and if the children and grandchildren do not carry out the circumcision, the children and grandchildren are considered not dutiful and do not appreciate the previous parents, because the activities of this girl's circumcision is usually included in the event that the promise is self-cultivating is a prayer activity together to pray for the future girls who are circumcised and pray for the past parents who have died. Whereas the community who chose the midwife to practice the circumcision of girls because the community has believed that the midwife is more skilled in the implementation of female circumcision with the health sciences that midwife took during school and midwife using modern tools as well as sterility to circumcise girls, and factors causing the survival of female circumcision is the factor of the sacredness of female circumcision, the factor of social obligation to implement female circumcision and functional factors of female circumcision (the function of submission to religious leaders, health function and social functions). The suggestions: For the government it is better to socialize to the community about more correct female circumcision measures and conduct evaluations related to female circumcision in a sustainable manner. As for medical personnel, it is necessary to increase the empowerment of knowledge of families / parents who have daughters through Posyandu activities by providing health-related explanations about the importance of maintaining women's reproductive health

Latar belakang: sunat perempuan berjalan karena adanya keyakinan bahwa sunat perempuan adalah bagian ajaran agama islam yang harus dipatuhi. Selain itu sunat perempuan juga dilatarbelakangi oleh adanya keyakinan pada kebudayaan leluhur yang harus dilestarikan. Kebudayaan adalah suatu hasil karya yang diciptakan oleh masyarakat yang dapat dipelajari dan diwariskan kepada generasi selanjutnya secara turun-temurun. Kebudayaan dan masyarakat adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Salah satu contoh dari kebudayaan yang ada di masyarakat adalah tradisi sunat. Pengertian sunat secara umum yaitu pemotongan sebagian dari organ kelamin. Sunat ternyata tidak hanya dilaksanakan pada laki-laki saja tetapi juga pada perempuan. Salah satu daerah di Jawa yang masih melaksanakan sunat perempuan yaitu masyarakat Desa Penanggungan Kecamatan Gabus, Pati, Jawa Tengah. Masyarakat Desa Penanggungan mempercayai jika sunat perempuan wajib untuk dilaksanakan seperti pada sunat laki-laki.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui alasan-alasan praktik sirkumsisi anak perempuan serta pertimbangan medis, agama dan budaya dalam mempertahankan praktik sirkumsisi anak perempuan di Desa Penanggungan, Kecamatan Gabus, Pati, Jawa Tengah. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Lokasi penelitian berada di Desa Penanggungan, Kecamatan Gabus, Pati, Jawa Tengah. Subyek penelitian adalah masyarakat Desa Penanggungan yang menyunatkan anak perempuannya, bidan setempat dan tokoh agama sebanyak 20 Informan. Pengumpulan data memakai observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi.Validitas data memakai teknik triangulasi. Analisis data memakai fase pengumpulan data kualitatif yang terdiri atas pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil Penelitian: Praktik sunat anak perempuan yang masih berjalan di Desa Penanggungan sampai sekarang dilatarbelakangi oleh adanya keyakinan bahwa praktik sunat anak perempuan masuk didalam ajaran agama yang harus dipatuhi. Praktik Sunat perempuan sendiri menjadi tradisi yang ada di Desa Penanggungan tetapi tidak dianggap tradisi yang besar seperti sunat pada laki-laki, sehingga dalam pelaksanaannya dirayakan secara terbatas atau sederhana. Proses praktik sunat perempuan berlangsung dalam 3 tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap sesudah pelaksanaan. Proses pelaksanaan sunat perempuan dilakukan oleh dukun ataupun bidan. Masyarakat masih menjalankan tradisi sunat anak perempuan dikarenakan kegiatan ini dipercaya masyarakat dapat menghilangkan suker (kotoran) anak perempuan yang dibawa anak dari sejak didalam kandungan ibu, selain itu praktik sunat perempuan sudah berjalan dari sejak orangtua mereka terdahulu.  Hal ini sudah melekat sebagai warisan leluhur, dan jika anak cucu tidak melaksanakan sunat maka anak cucu tersebut dianggap tidak berbakti dan tidak menghargai orangtua terdahulu, karena kegiatan sunat anak perempuan ini biasanya di sertakan acara berjanjen dimana berjanjen sendiri adalah kegiatan berdoa bersama untuk mendoakan masa depan anak perempuan yang disunat beserta mendoakan orangtua terdahulu yang sudah meninggal. Sedangkan masyarakat yang memilih bidan untuk melakukan praktik sunat anak perempuan dikarenakan masyarakat yang telah percaya bahwa bidan lebih terampil dalam pelaksanaan sunat anak perempuan dengan ilmu kesehatan yang bidan tempuh selama sekolah dan bidan menggunakan alat modern serta steril untuk menyunat anak perempuan, dan faktor penyebab bertahannya sunat perempuan yaitu faktor kesakralan sunat perempuan, faktor kewajiban sosial untuk melaksanakan sunat perempuan dan faktor fungsional dari sunat perempuan (fungsi ketundukan pada pemuka agama, fungsi kesehatan dan fungsi sosial).

Saran yang dapat penulis rekomendasikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: bagi pemerintah sebaiknya perlu melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai tindakan sunat perempuan yang lebih benar dan melakukan evaluasi terkait dengan sunat perempuan secara berkelanjutan. Sedangkan bagi tenaga medis, perlu meningkatkan pemberdayaan pengetahuan keluarga/orang tua yang mempunyai anak perempuan melalui kegiatan Posyandu dengan memberikan penjelasan terkait kesehatan mengenai pentingnya menjaga kesehatan reproduksi wanita


Keywords


penanggungan01




DOI: https://doi.org/10.22146/bkm.38984

Article Metrics

Abstract views : 50

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2018 Berita Kedokteran Masyarakat

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Berita Kedokteran Masyarakat ISSN 0215-1936 (PRINT), ISSN: 2614-8412 (ONLINE).

Indexed by:


Web
Analytics Visitor Counter