Pengaruh Ketebalan Abu Volkan di Atas Permukaan Tanah yang Jatuh pada Berbagai Fase Tumbuh terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jagung (Zea Mays L.)

https://doi.org/10.22146/veg.27959

Ganang Rudianto(1*), Didik Indradewa(2), Sri Nuryani Hidayah Utami(3)

(1) 
(2) Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada
(3) Departemen Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada
(*) Corresponding Author

Abstract


Erupsi gunung berapi tidak dapat diprediksi sedangkan menanam tanaman pangan
dilakukan secara terus menerus. Abu volkan hasil erupsi gunung Kelud tahun 2014
mengarah ke barat daya yaitu ke arah Yogyakarta dengan jarak ratusan kilometer.
Tanaman jagung adalah salah satu tanaman pangan yang dibudidayakan dari dataran
rendah sanpai dataran tinggi. Stadia pertumbuhan tanaman jagung yang terkena abu
volkan dapat berbeda-beda tergantung kapan erupsi gunung berapi terjadi. Penelitian ini
telah dilaksanakan di Dusun Peni, Palbapang, Bantul, Yogyakarta mulai bulan Juni-
September 2016. Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL)
faktorial dua faktor, dengan tiga ulangan. Data pengamatan dianalisis menggunakan
analisis varian (ANOVA), apabila terdapat beda nyata dilakukan uji lanjut jarak berganda
Duncan taraf nyata 5% guna mengetahui perbandingan antar perlakuan. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa abu volkan yang jatuh saat tanaman jagung belum berkecambah
menyebabkan tanaman jagung tidak tumbuh. Abu volkan yang jatuh saat tanaman
berumur 20 hari atau dalam fase vegetatif secara umum menunjukkan pertumbuhan dan
hasil yang paling baik, akan tetapi akar tanaman menjadi serabut.


Keywords


Zea mays L., abu volkan, ketebalan abu volkan



References

Barnito, N., 2009. Budidaya tanaman jagung. Suka Abadi. Yogyakata.

Fiantis, D., 2006. Laju Pelapukan Kimia Debu Vulkanis G. Talang dan Pengaruhnya

Terhadap Proses Pembentukan Mineral Liat Non-Kristalin. Universitas Andalas,

Padang.

Harniati, U. 2002. Keunggulan dan kelemahan sistem alley cropping serta peluang dan

kendala adopsinya di lahan kering das bagian hulu.

+lahan+kering&hl>. Diakses pada 18 Agustus 2016.

Ma, Jian Feng and Naoki Yamaji. 2006. Silicon uptake and accumulation in higher plants.

TRENDS in Plant Science Vol 11.

Makarim, A.K. E. Suhartatik dan A. Kartohardjono. 2007. Silikon: hara penting pada sistem

produksi padi. Iptek Tanaman Pangan. Vol 2:195-204.

Munir, M., 1996. Tanah – tanah utama Indonesia. Pustaka Jaya, Jakarta.

Ningsih, Sri. 2012. Kajian laju infiltrasi tanah dan imbuhan air tanah lokal sub das gendol

pasca erupsi merapi 2010. Jurnal Bumi Indonesia. 1:218-226.

Shoji, S. & Takahashi, T., 2002. Environmental and Agricultural Significance of Volcanic

Ash Soils. Jpn. J. Soil Sci. Plant Nutr. 73: 113-135.

Suriadikarta, D.A., Abbas, A., Sutono, Erfandi, D., Santoso, E., Kasno, A., 2010.

Identifikasi Sifat Kimia Abu Volkan, Tanah dan Air di Lokasi Dampak Letusan

Gunung Merapi. Bogor : Balai Penelitian Tanah.

Takahashi, E. 1995. Uptake model and physiological functions of silica. In: T. Matsuo, K.

Kumazawa, R. Ishii, K. Ishihara, and H. Hirata (Eds.). Science of Rice Plant,

Physiology. Food and Agriculture Research Center, Tokyo. 2:420-433.



DOI: https://doi.org/10.22146/veg.27959

Article Metrics

Abstract views : 1347 | views : 2189

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 Vegetalika



VEGETALIKA journal indexed by: 

 

       

  

View My Stats