MEMBACA KUNTAU MUSI RAWAS SEBAGAI PRAKTIK SENI DAN KESADARAN EKOLOGIS
Evan Sapentri(1*), Trusti Warni(2)
(1) Program Studi Seni Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta
(2) Program Studi Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Sebelas Maret
(*) Corresponding Author
Abstract
Krisis ekologis di Kabupaten Musi Rawas, Sumatra Selatan, tidak hanya menimbulkan degradasi lingkungan, tetapi juga berpeluang mengancam keberlangsungan seni tradisi lokal seperti kuntau. Artikel ini berupaya membaca kuntau musi rawas dalam perspektif eco art untuk menelaah bagaimana seni bela diri tradisional ini berfungsi sebagai praktik seni dan kesadaran ekologis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi terhadap tiga belas pe-kuntau di delapan kecamatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ritual kuntau yang melibatkan unsur alam, seperti hutan, sungai, tumbuhan, dan fauna merepresentasikan relasi ekologis masyarakat Musi Rawas. Namun, deforestasi, pencemaran sungai, dan hilangnya habitat satwa berpotensi mendeterminasi eksistensi kuntau, mengikis makna kosmologisnya, dan menimbulkan krisis regenerasi. Dalam konteks eco art, kuntau dipahami sebagai praktik yang meneguhkan hubungan spiritual dan ekologis antara manusia dan alam. Revitalisasi kuntau melalui pendidikan budaya, kelembagaan seni, dan kolaborasi lintas sektor menjadi strategi penting untuk melestarikan kuntau di tengah krisis ekologis yang kian akut.
Keywords
Full Text:
PDF (Bahasa Indonesia)References
Beck, R. & Metrick, S.B. (1990). The Art of Ritual: Creating and Performing Ceremonies for Growth and Change. Apocryphile Press.
Bulan, I. (2016). Transformasi Kuttau Lampung dari Beladiri menjadi Seni Pertunjukan Tari Pedang. Jurnal Kajian Seni, 3(2), 58–68. https://doi.org/10.22146/jksks.29870
Burhan, M. A., Anusapati, A., & Morin, L. L. D. (2021). Instalasi Eco Art Sebagai Media Kultivasi Mikroalga. Panggung, 31(1). https://doi.org/10.26742/ panggung.v31i1.1539
Cucuzzella, C. (2021). Making the Invisible Visible: Eco-Art and Design against the Anthropocene. Sustainability, 13(7), 3747. https://doi.org/10.3390/su13073747
Draeger, D.F. (2020). The Martial Arts of Indonesia: A Guide to Pencak Silat, Kuntao and Traditional Weapons. Tuttle Publishing.
Emigh, J. (1996). Masked Performance: The Play of Self and Other in Ritual and Theatre. University of Pennsylvania Press.
Erőss, I. (2011). Nature Art. Eger Hungary: EKF, Liceum Kiado Edition.
Gablik, S. (1995). The reenchantment of art. Thames and Hudson.
Gerry, D., & Osup, C. (2021). Perubahan Fungsi dan Seni Persembahan Kuntau di Kampung Bayur, Balai Ringin, Sarawak. KUPAS SENI: Jurnal Seni dan Pendidikan Seni, 9(1), 16–28. https://doi.org/10.37134/kupasseni.vol9.1.2.2021
Getz, D. (2007). Event Studies: Theory, Research and Policy for Planned Events (First Edition). Butterworth-Heinemann.
Habsah (2021). Kajian Terhadap Seni Persembahan Silat Kuntau Jawa di Balik Pulau, Pulang Pinang. Skripsi. Universiti Malaysia Kelantan.
Harper, D. (n.d.). Etymology of eco-. Online Etymology Dictionary. Retrieved April 3, 2026, from https://www.etymonline.com/word/eco-
Harper, D. (n.d.). Etymology of ecology. Online Etymology Dictionary. Retrieved April 3, 2026, from https://www.etymonline.com/word/ecology
Hasanah, H. (2020). Makna Falsafah Kuntau dalam Tradisi Pernikahan di Desa Segamit Kecamatan Semende Darat Ulu Kabupaten Muara Enim. Skripsi. Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang.
Lidiantari, A., Muliati, R., Nursyirwan, & Minawati, R. (2024). RITUAL BELA DIRI KUTAU DALAM MASYARAKAT DESA SURO, KABUPATEN MUSI RAWAS. Paradigma: Jurnal Kajian Budaya, 14(2), 189–203. https://doi.org/10.17510/paradigma.v14i2.1430
Lubis, Z. (2013a, June 17). Hutan Musi Rawas sebagian besar gundul. Antara News Sumsel. https://sumsel.antaranews.com/berita/275715/hutan-musi-rawas-sebagian-besar-gundul
Lubis, Z. (2013b, June 8). Kawasan hutan konservasi di Musi Rawas gundul. Antara News Sumsel. https://sumsel.antaranews.com/berita/275455/kawasan-hutan-konservasi-di-musi-rawas-gundul
Marianto, M.D. (2019). Seni dan Daya Hidup dalam Perspektif Quantum. Scritto Books dan BP ISI Yogyakarta.
Miles, M.B., & Huberman, A.M. (2014). Analisis Data Kualitatif. UI-Press.
Moleong, L.J. (2014). Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). PT Remaja Rosdakarya.
Monica, N.D., Gazali, R.Y., & Jabar, H.A. (2021). Eksplorasi Etnomatematika Pada Seni Bela Diri Kuntau Kalimantan Selatan. Prosiding Seminar Nasional Mipati, (1), 160–165.
Mustiar, Aprilia, R., Nurhasanah, S.L., Nabillah, S.I., & Lubis, H. (2016). Seni Bela Diri Kuntau dalam Meningkatkan Rasa Aman. Jurnal Psikostudia Universitas Mulawarman, 5(2), 107–121. http://dx.doi.org/10.30872/psikostudia.v5i2.2282
Muzdalifah, S., Wijaya, A., & Sulistyawati, D.R. (2021). Tari Langkah Mambunga: Stilisasi Gerak Kuntau. Tandik: Jurnal Seni dan Pendidikan Seni, 1(2), 120–134. https://doi.org/10.33654/tdk.v1i2.1454
Pahlevi, A. R. (2025, June 21). Hotspot di Sumsel Naik Pesat Bulan Ini, Terbanyak di Musi Rawas. Detiksumbagsel. https://www.detik.com/sumbagsel/berita/d-7973790/hotspot-di-sumsel-naik-pesat-bulan-ini-terbanyak-di-musi-rawas
Poerwoko, W. (2019). Eco Art Bamboo and Silat Spirituality in the Integrated Space Design, IJCAS, 6(2), 139–156. https://doi.org/10.24821/ijcas.v6i2.3424
Pusat Krisis Kesehatan. (2023, September 27). Kebakaran hutan dan lahan di Musi Rawas, Sumatra Selatan. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. https://pusatkrisis.kemkes.go.id/Kebakaran-Hutan-dan-Lahan-di-MUSI-RAWAS-SUMATERA-SELATAN-27-09-2023-16
Rea, T. (2014). Silat Kuntao: Southeast Asian Martial Methods. CreateSpace Independent Publishing Platform.
Sapentri, E. (2023). Kuntau: Seni Bela Diri Untuk Generasi Penerus. Benny Institute.
Schechner, R. (2013). Performance Studies: An Introduction (Third Edition) (Brady, S., Ed.). Routledge.
Seiwert, D. (2014). KunTao: The Esoteric Martial Art of Southeast Asia. CreateSpace Independent Publishing Platform.
Steward, J.H. (1955). Theory of culture change: The methodology of multilinear evolution. University of Illinois Press.
Stomorangkir, T. (2017). Pengaruh Seni Bela Diri Kuntau Terhadap Kecenderungan Individu Menjadi Preman Jalanan (Studi di Desa Aur Gading Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang). Skripsi. Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang.
Sugiyono. (2014). Memahami Penelitian Kualitatif. Alfabeta.
Surat Keterangan Nomor 800/345/Kec.TN/2023 Tanggal 26 Mei 2023 dari Kecamatan Tuah Negeri Tentang Informasi Seniman Kuntau.
Sutton, M.Q., & Anderson, E. N. (2010). Introduction to cultural ecology. 2nd ed. AltaMira Press.
Svašek, M. (2007). Anthropology, Art and Cultural Production. Pluto Press.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan.
UNESCO. (2003). Text of the Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage. https://ich.unesco.org/en/convention
Weintraub, L. (2012). To Life!: Eco Art in Pursuit of a Sustainable Planet (1st ed.). University of California Press.
Widoyoko, S.E.P. (2014). Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian. Pustaka Pelajar.
Wijaya, T. (2021, January 9). Ulu Rawas, Jejak Peradaban Manusia di Sumatera yang Terlupakan. Mongabay.co.id. https://mongabay.co.id/2021/01/09/ulu-rawas-jejak-peradaban-manusia-di-sumatera-yang-terlupakan/
Yuliani. (2025, June 21). 113 Titik Panas Melonjak di Sumsel Selama Juni, Musi Rawas Terbanyak. IDN Times Sumsel. https://sumsel.idntimes.com/news/sumatera-selatan/113-titik-panas-melonjak-di-sumsel-selama-juni-musi-rawas-terbanyak-c1c2-01-fzf3x-5zkf56
Article Metrics
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Copyright (c) 2026 Evan Sapentri & Trusti Warni

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.






