PERFORMATIVITAS GENDER SENI CROSS GENDER SINDEN LANANG DINA LAURA SANGGAR GUYUBING BUDAYA KOTA BLITAR

https://doi.org/10.22146/jksks.88537

Venella Yayank Hera Anggia(1*)

(1) Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
(*) Corresponding Author

Abstract


Sinden secara umum dikonsepsikan sebagai penyanyi solo perempuan. Namun, konsep ini dipatahkan oleh adanya fenomena cross gender sinden lanang pada Sanggar Gubyubing Budaya Kota Blitar. Pelakunya adalah Udin dengan nama panggung Dina Laura yang memperlihatkan bahwa gagasan gender dan jenis kelamin tidak harus biner. Tujuan dari penelitian ini berupaya mengkaji kesenian cross gender sinden lanang melalui sudut pandang performativitas gender untuk mengetahui bagaimana pelaku sinden lanang melakukan transformasi dan rekonstruksi bineritas gender feminin-maskulin melalui performativitas gendernya di dalam pertunjukan. Penelitian ini berupa penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan etnografi feminis. Penggalian datanya dengan cara triangulasi yang dianalisis menggunakan teori performativitas gender Judith Butler. Hasil penelitiannya ditemukan bahwa melalui pertunjukan cross gender sinden lanang, Udin berusaha menunjukkan bahwa transformasi gender feminin-maskulin dapat dilakukan dengan mudah. Terutama ditempuh dengan penanda permukaan tubuh, seperti make up, suara, perilaku dan pakaian. Ini menunjukkan bahwa gender sebenarnya adalah sesuatu yang dinamis dan dapat berubah-ubah melalui tindakan pengulangan. Maka dari itu, sinden lanang menjadi salah satu bentuk rekonstruksi atas bineritas gender.


Keywords


Sinden Lanang, Cross Gender, Performativitas Gender, Feminin, Maskulin



References

Blackwood, E. (2005). Gender Transgression in Colonial and Postcolonial Indonesia. Journal of Asian Studies, 64(4), 849–879. https://doi.org/10.1017/s0021911805002251 Boellstorff, T. (2004). Playing Back the Nation: Waria, Indonesian Transvestites. Cultural Anthropology, 19(2), 159–195. Butler, J. (1988). Performative Acts and Gender Constitution: An Essay in Phenomenology and Feminist Theory. Theatre Journal, 40(4), 519–531. http://www.jstor.org/stable/3207893 Butler, J. (1999). Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity. Routledge. Butler, J. (2009). Performativity, Precariety and Sexual Politics. AIBR, Revista de Antropología Iberoamericana, 4(3), i–xiii. www.aibr.org Hanson, R. (2010). Duct Tape, Eyeliner, and High Heels: The Reconstruction of Gender and Sexuality in A Drag Show. Hefner, R. W. (1987). The Politics of Popular Art: Tayuban Dancing and Culture Change in Java. Indonesia. Holt, C. (2000). Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia. arti.line. Idrus, N. I. (2006). Antropologi Feminis: Etnografi, Relasi Gender dan Relativisme Budaya di Indonesia. Antropologi Indonesia, 30(3), 272–296. Iffah, R. N., & Huda, T. F. (2019). Peranan Sinden Dalam Grup Kesenian Janger Bongkoran Di Desa Bongkoran Kecamatan Srono. https://doi.org/10.31227/osf.io/t2a6z Iman Hartanto, S. (2016). Perspektif Gender pada Lengger Lanang Banyumas. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya, 1(2), 145–153. Johnson, M. (1997). Beauty and Power: Transgendering and Cultural Transformation in the Southern Philippines (Explorations in Anthropology). Routledge. Mahfuri, R., & Bisri, M. H. (2019). Fenomena Cross Gender Pertunjukan Lengger pada Paguyuban Rumah Lengger. Jurnal Seni Tari, 8(1), 1–11. http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jst Mrázek, J. (2005). Masks and selves in contemporary Java: The dances of Didik Nini Thowok. Journal of Southeast Asian Studies, 36(2), 249–279. https://doi.org/10.1017/S0022463405000160 Muttaqin, F. (2014). The Politics of Local Versus Global of Sexuality and Gender Debates in The Post-Soeharto Era. Jurnal Lakon, 3(1), 15–42. Palmer, S. (2010). Front and Center: An Anthropological Analysis of Drag Queens in American Culture. Proceedings of GREAT Day, 13. Peacock, J. L. (1987). Rites of Modernization: Symbolic and Social Aspects of Indonesian Proletarian Drama (Symbolic Anthropology). University of Chicago Press. Pirade, C. M. T. (2018). Makna hidup pada penari Cross Gender: Drag Queen. Sanata Dharma University. Reinharz, S. (2005). Metode-Metode Feminis dalam Penelitian Sosial. Women Research Institute. Ross, L. M., & Thowok, D. N. (2005). Mask, gender, and performance in Indonesia: An interview with Didik Nini Thowok. Asian Theatre Journal, 22(2), 214–226. https://doi.org/10.1353/atj.2005.0033 Sunardi, C. (2009). Pushing at The Boundaries of The Body: Cultural Politics and Cross-Gender Dance in East Java. Bijdragen Tot de Taal-, Land- En Volkenkunde, 165(4), 459–492. http://www.kitlv-journals.nl/index.php/btlv Sutrisno, L. B. (2020). Drag Performance oleh Javanese Cross Gender dalam Cabaret Show di Yogyakarta. Tonil: Jurnal Kajian Sastra, Teater Dan Sinema, 172. Sutton, R. A. (1984). Who Is the Pesindhèn? Notes on the Female Singing Tradition in Java. Indonesia, 37, 118–133. Wahyudi. (2019). Kontestasi Para Waria dalam Pertunjukan Ketoprak Lakon Ande Ande Lumut oleh Paguyuban Seni Sedap Malam Sragen: Sebuah Kajian Performativitas Gender. Tonil: Jurnal Kajian Sastra, Teater Dan Sinema, 16(2), 89–102.



DOI: https://doi.org/10.22146/jksks.88537

Article Metrics

Abstract views : 150 | views : 104

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2026 Venella Yayank Hera Anggia

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

This journal is published by Performing Arts and Visual Arts Studies, Graduate School, Universitas Gadjah Mada.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

web
statistics View My Stats