Peran Bakpia Pathok 25 Dalam Mendorong Wisata Gastronomi dan Memperkuat City Branding Yogyakarta
Aneke Rahmawati(1*), Suci Sumbawati(2)
(1) Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta
(2) 
(*) Corresponding Author
Abstract
Wisata gastronomi merupakan salah satu bentuk pengembangan pariwisata berbasis pengalaman yang menempatkan kuliner lokal sebagai representasi identitas budaya dan daya tarik destinasi. Yogyakarta sebagai kota budaya memiliki beragam produk kuliner ikonik, salah satunya Bakpia Pathok 25 yang telah berkembang dari industri rumahan menjadi simbol oleh-oleh dan identitas kota. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Bakpia Pathok 25 dalam mendorong wisata gastronomi serta kontribusinya dalam memperkuat city branding Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur terhadap karyawan dan wisatawan, observasi non-partisipan terhadap proses produksi dan aktivitas wisata, serta analisis dokumen promosi dan kebijakan pariwisata. Analisis data dilakukan secara induktif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan menjaga keabsahan data melalui triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bakpia Pathok 25 berperan signifikan dalam menciptakan pengalaman wisata gastronomi yang autentik melalui keaslian proses produksi, keterlibatan multi sensorial, dan narasi budaya yang kuat. Selain itu, keberadaan Bakpia Pathok 25 memberikan dampak positif terhadap perekonomian lokal melalui penciptaan lapangan kerja, penguatan rantai pasok berbasis komunitas, serta efek pengganda bagi usaha mikro di sekitarnya. Dalam konteks city branding, Bakpia Pathok 25 berfungsi sebagai simbol kuliner yang memperkuat citra Yogyakarta sebagai destinasi budaya dan gastronomi. Temuan ini menegaskan bahwa kuliner tradisional dapat menjadi aset strategis dalam pengembangan wisata berkelanjutan dan pembentukan identitas kota.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Archer, B., & Fletcher, J. (1996). The economic impact of tourism in the Seychelles. Annals of Tourism Research, 23(1), 32–47.
Bowen, G. A. (2009). Document analysis as a qualitative research method. Qualitative Research Journal, 9(2), 27–40. https://doi.org/10.3316/QRJ0902027
Cohen, E., & Avieli, N. (2004). Food in tourism: Attraction and impediment. Annals of Tourism Research, 31(4), 755–778. https://doi.org/10.1016/j.annals.2004.02.003
Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (4th ed.). SAGE Publications.
Ellis, A., Park, E., Kim, S., & Yeoman, I. (2018). What is food tourism? Tourism Management, 68, 250–263. https://doi.org/10.1016/j.tourman.2018.03.025
Fields, K. (2002). Demand for the gastronomy tourism product: Motivational factors. In A.-M. Hjalager & G. Richards (Eds.), Tourism and gastronomy (pp. 36–50). Routledge.
Hjalager, A.-M., & Richards, G. (Eds.). (2002). Tourism and gastronomy. Routledge.
Kavaratzis, M., & Ashworth, G. J. (2005). City branding: An effective assertion of identity or a transitory marketing trick? Tijdschrift voor Economische en Sociale Geografie, 96(5), 506–514. https://doi.org/10.1111/j.1467-9663.2005.00482.x
Kemenparekraf. (2021). Laporan tahunan pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.
Kusumaningrum, D. E., Wibowo, D. N., & Astuti, Y. (2022). Peran UMKM dalam pariwisata gastronomi berbasis budaya lokal. Jurnal Pariwisata Nusantara, 14(2), 117–130.
Lincoln, Y. S., & Guba, E. G. (1985). Naturalistic inquiry. SAGE Publications.
Lin, Y.-C., Pearson, T. E., & Cai, L. A. (2011). Food as a form of destination identity: A tourism destination brand perspective. Tourism and Hospitality Research, 11(1), 30–48.
Okumus, B., Koseoglu, M. A., & Ma, F. (2018). Food and gastronomy research in tourism and hospitality: A bibliometric analysis. International Journal of Hospitality Management, 73, 64–74.
Prahalad, C. K., & Ramaswamy, V. (2004). Co‐creation experiences: The next practice in value creation. Journal of Interactive Marketing, 18(3), 5–14.
Sims, R. (2009). Food, place and authenticity: Local food and the sustainable tourism experience. Journal of Sustainable Tourism, 17(3), 321–336.
Sugiyono. (2019). Metode penelitian kualitatif, kuantitatif, dan R&D. Alfabeta.
Yin, R. K. (2018). Case study research and applications: Design and methods (6th ed.). SAGE Publications.
Article Metrics
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Copyright (c) 2026 Aneke Rahmawati; Suci Sumbawati

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.




