Journal of Social Development Studies https://journal.ugm.ac.id/v3/JSDS <p style="text-align: justify;">Journal of Social Development Studies (JSDS) publishes peer-reviewed articles on all social development issues that are widely scattered both in Indonesia and wide-globe region countries. The journal aims to encourage the knowledge sharing activities between academics, scholars and practitioners in this field. Moreover, the journal is published since 2020 and managed by the Department of Social Development and Welfare, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada twice per year, in March and September. In 2021 JSDS indexed in Directory of Open Access Journal (DOAJ) and in 2022 got national accreditation SINTA 3. The journal focuses on three main areas of discussions: community empowerment, corporate social responsibility, and social policy. The journal welcomes papers that discuss the following themes: Social Movement and Empowerment; Human Rights, Citizenship and Development; Social Entrepreneurship; Community Development Theories, Approaches and Methods; Community Organization and Participation; Socio-cultural, Environmental and Economic Development; Industrial Relations; Decent Work; Education and Social Policy; Health Insurance and Policy; Social Protection; Wellbeing, Welfare, and Development; Poverty and Social Justice; Social Inclusion; Gender, Family and Development; Digital Technology and Development; Welfare Regime.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> Department of Social Development and Welfare, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada en-US Journal of Social Development Studies 2721-3870 Diskursus Alternatif Hak Kesehatan Menstruasi: Menganalisa Keterlibatan Biyung Indonesia dalam Permasalahan Kemiskinan Menstruasi melalui Advokasi Pembalut Kain https://journal.ugm.ac.id/v3/JSDS/article/view/21043 <p>Abstrak</p> <p>Penelitian ini menganalisis wacana menstruasi dalam masyarakat dengan menggunakan perspektif Michel Foucault mengenai kekuasaan, wacana, dan pengetahuan. Melalui metode studi kasus, penelitian ini menelaah peran Biyung Indonesia dalam membangun wacana alternatif di tengah dominasi wacana arus utama. Wacana arus utama didominasi oleh norma sosial yang menstigmatisasi menstruasi sebagai hal tabu, sehingga membatasi percakapan terbuka dan melanggengkan praktik manajemen menstruasi yang mengabaikan hak kesehatan perempuan. Dominasi ini diperkuat oleh kebijakan negara dan kontrol industri yang cenderung mendorong penggunaan pembalut sekali pakai tanpa menyediakan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Sebagai respons, Biyung Indonesia mendorong keterbukaan, menyelenggarakan edukasi kesehatan menstruasi, dan mempromosikan pembalut kain sebagai alternatif yang lebih berkelanjutan. Wacana menstruasi memiliki peran krusial dalam isu kesetaraan gender, hak atas kesehatan, dan keberlanjutan lingkungan, yang menjadikannya sebagai agenda penting dalam pembangunan sosial. Penelitian ini mengisi kesenjangan literatur dengan mengeksplorasi bagaimana Biyung Indonesia mendorong perubahan kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan perempuan.</p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>Kata kunci:</strong> Advokasi Perempuan; Kemiskinan Menstruasi; Hak Kesehatan Menstruasi; Diskursus</p> <p>&nbsp;</p> <p>Abstract</p> <p><em>This study analyzes the discourse surrounding menstruation in society through the lens of Michel Foucault's theories on power, discourse, and knowledge. Using a case study method, the research explores how Biyung Indonesia constructs an alternative discourse to challenge the dominance of mainstream narratives. Mainstream discourse often stigmatizes menstruation as taboo, limiting open conversation and perpetuating practices that neglect women's health rights. This is reinforced by state policies and industry control, which tend to prioritize disposable pads while overlooking more sustainable alternatives. In response, Biyung Indonesia challenges this dominant narrative by advocating for open dialogue, promoting menstrual health education, and championing cloth pads as an environmentally friendly solution. The discourse on menstruation is crucial for advancing gender equality, health rights, and environmental sustainability, making it a vital issue in social development. This research fills a gap in the literature by examining how grassroots movements like Biyung Indonesia can foster policy changes that are more responsive to women’s needs.</em></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>Keywords: </strong><em>Women's Advocacy; Period Poverty; Menstrual Health Rights; Discourse</em></p> Salsabila Laily Maulina Milda Longgeita Pinem Copyright (c) 2025 Journal of Social Development Studies 2025-11-21 2025-11-21 6 2 10.22146/jsds.21043 Dinamika Transformasi Sosial dan Budaya di Desa Rawak Hulu dan Rawak Hilir: Dari Etnosentrisme ke Multikulturalisme https://journal.ugm.ac.id/v3/JSDS/article/view/16383 <p>Abstrak</p> <p>Penelitian ini menganalisis dinamika perubahan sosial budaya di Desa Rawak Hulu dan Rawak Hilir, Kecamatan Sekadau Hulu, Kalimantan Barat, dari pola etnosentrisme menuju multikulturalisme. Berdasarkan data yang diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, penelitian ini menemukan bahwa pendidikan multikultural serta interaksi antarbudaya menjadi faktor utama pendorong perubahan tersebut. Pendidikan berperan aktif dalam menanamkan nilai-nilai inklusif dan mendekonstruksi prasangka lama, sementara interaksi sosial memperkuat kohesi antara komunitas Melayu dan Tionghoa. Peningkatan kesadaran sosial dan perluasan akses terhadap pendidikan turut mendorong penerapan nilai-nilai inklusif, sehingga tercipta lingkungan multikultural yang harmonis. Meskipun demikian, tantangan tetap muncul, khususnya pada momen-momen politik yang berpotensi memicu kembali sentimen etnis. Hal ini menunjukkan bahwa multikulturalisme merupakan proses dinamis yang memerlukan pemeliharaan berkelanjutan. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman tentang transformasi sosial di wilayah pedesaan Indonesia serta menegaskan pentingnya kebijakan yang mendukung integrasi budaya dan pendidikan multikultural guna memperkuat kohesi sosial di masyarakat yang beragam secara etnis.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> Etnosentrisme; Multikulturalisme; Perubahan Sosial Budaya; Pendidikan.</p> <p>&nbsp;</p> <p><em>Abstract</em></p> <p><em>This study examines the socio-cultural transformation of Rawak Hulu and Rawak Hilir villages in the Sekadau Hulu District, West Kalimantan, focusing on the shift from ethnocentrism to multiculturalism. Using a qualitative approach, data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation. The findings indicate that multicultural education and intercultural interaction are the main drivers of this transformation. Education plays an active role in fostering inclusive values and deconstructing long-standing prejudices, while social interactions strengthen cohesion between the Malay and Chinese communities. Increasing social awareness and broader access to education have further promoted the adoption of inclusive values, leading to the development of a harmonious multicultural environment. However, challenges remain, particularly during political periods that may reignite ethnic sentiments, suggesting that multiculturalism is a dynamic process requiring ongoing maintenance. This study contributes to the broader understanding of social change in rural Indonesia and highlights the importance of policies that promote cultural integration and multicultural education to strengthen social cohesion in ethnically diverse communities.</em></p> <p><strong>Key words:</strong> <em>Ethnocentrism; Multiculturalism; Sociocultural Change; Education.</em></p> Arjun Wahyudi Yusawinur Barella Hadi Wiyono Copyright (c) 2025 Journal of Social Development Studies 2025-11-21 2025-11-21 6 2 10.22146/jsds.16383 Pemberdayaan Masyarakat Adat melalui Pariwisata Ilmiah: Pembelajaran dari Kampung Persiapan Malasigi di Provinsi Papua Barat Daya https://journal.ugm.ac.id/v3/JSDS/article/view/27346 <p>Artikel ini menganalisis peran pariwisata ilmiah sebagai strategi pemberdayaan masyarakat multipihak dalam konteks masyarakat adat di Kampung Persiapan Malasigi, Provinsi Papua Barat Daya. Dengan mengadopsi perspektif pariwisata ilmiah sebagai upaya pemberdayaan masyarakat, penelitian ini menunjukkan bagaimana integrasi pengetahuan lokal, konservasi ekologis, dan inovasi kolaboratif dapat memperkuat agensi sosial dan ekonomi masyarakat adat. Adapun penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang pengambilan datanya dilakukan melalui teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan <em>Focus Group Discussion</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pariwisata ilmiah tidak hanya mendiversifikasi sumber pendapatan masyarakat, tetapi juga memperkuat identitas budaya dan memperluas legitimasi sosial melalui praktik wisata berbasis pengetahuan. Dalam hal ini, kolaborasi multipihak seperti FFI sebagai NGO konservasi, PT Pertamina EP Papua Field sebagai penyelenggara Program CSR MATA HATI MALASIGI, dan masyarakat adat Malasigi sebagai aktor utama telah berperan sebagai fasilitator kolaboratif yang memperkuat kapasitas lokal secara etis dan adaptif melalui pemberdayaan berbasis masyarakat.</p> Kafa Abdallah Kafaa Wahid Nur Kartiko Harsanto Mursyid Danang Arif Darmawan Copyright (c) 2026 Journal of Social Development Studies 2026-01-05 2026-01-05 6 2 10.22146/jsds.27346