https://journal.ugm.ac.id/v3/LA/issue/feedLembaran Antropologi2026-01-07T11:34:36+07:00Dr. Realisa Darathea Masardi, M.A.lembaran-antropologi.fib@ugm.ac.idOpen Journal Systems<p><span style="font-weight: 400;">Lembaran Antropologi is a journal managed and published by the Department of Anthropology Faculty of Cultural Science Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Indonesia.</span></p> <p><span style="font-weight: 400;">Lembaran Antropologi aims to promote academic discourses and anthropological analysis on the study of human relations, cultures, and societies in both Global North and Global South. This journal holds the core values of the Department of Anthropology, Universitas Gadjah Mada in advancing ethnographic research and studies which is critical, inclusive, reflective, and emancipative. The journal seeks to establish a balanced perspective on global academic discourse by highlighting the positionality of researchers as post-colonial subjects in interpreting sets of human relations and social phenomena.<br><br>Lembaran Antropologi is a biannually journal with a publication period of <strong>January - June (first number)</strong> and<strong> July - December (second number)</strong> per year. <br></span></p>https://journal.ugm.ac.id/v3/LA/article/view/27575Semangat Kritis2026-01-07T11:33:55+07:00Pujo Semedipujosemedi@ugm.ac.id2025-06-30T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Lembaran Antropologihttps://journal.ugm.ac.id/v3/LA/article/view/20806Representasi Perempuan dalam Narasi Pameran dan Isu Berkelanjutan: Menginterpretasikan Ulang Koleksi Lukisan Kamasan2026-01-07T11:34:29+07:00Ayu Dipta Kiranadipta.kirana@staff.uns.ac.id<p>Museum sebagai lembaga budaya memiliki kekuatan untuk berkontribusi nyata dalam mempromosikan dan menyajikan berbagai isu sosial yang relevan yang berkaitan dengan tujuh belas kunci SDGs, termasuk Gender Equality. Memperbincangkan gender dalam representasi pameran dapat menjadi upaya museum untuk membuka ruang diskusi terhadap isu perempuan dan narasi saat ini. Tulisan ini akan membahas pembuatan narasi kuratorial hingga praktik representasi perempuan yang relevan pada hari ini dengan berbasis media artefak-artefak kuno yang masih banyak dipengaruhi oleh pemikiran kolonialisme. Studi kasus yang diangkat ialah koleksi lukisan Kamasan dari Bali yang menjadi bagian dari pameran dengan tema perempuan di museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Metode penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui pengumpulan data observasi-partisipatoris dan wawancara mendalam untuk melihat bagaimana tim kuratorial dan museum berupaya membangun narasi perempuan dengan artefak kuno diceritakan ulang dengan menyampaikan isu kesetaraan gender hingga isu kekerasan seksual. Penelitian ini hadir sebagai sebuah interpretasi koleksi kolonial yang kemudian dikurasi kembali untuk bisa menyampaikan pesan relevan sesuai dengan zamannya termasuk mengenai wacana gender. Hasil penelitian menunjukkan bahwa museum mampu menghadirkan representasi perempuan objek koleksi, tata praktik kuratorial, dan eksperimen dalam pameran untuk menghidupkan perbincangan mengenai perempuan dan wacana gender.</p>2025-06-30T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Lembaran Antropologihttps://journal.ugm.ac.id/v3/LA/article/view/23722Pergeseran Makna Tren Tato pada Generasi Muda di Kota Padang2026-01-07T11:34:16+07:00Nisrina Qurrata Aininqaini16@gmail.com<p>Dalam beberapa tahun belakangan ini terjadi peningkatan minat generasi muda terhadap tato. Media sosial dengan berbagai platform menjadi salah satu pemicu utama dalam peningkatan minat generasi muda terhadap tato tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, terjadi kenaikan angka pelanggan di dua studio tato di Kota Padang yang menjadikan pemuda pelanggan utama. Para generasi muda tersebut berusia dari rentang 17 hingga 30 tahun. Desain tato yang digunakan identik dengan simbol-simbol yang sarat akan makna sehingga simbol yang sedang tren tersebut menjadi menarik untuk dikaji lebih lanjut mengenai bagaimana tren tato dan makna dari simbol yang digunakan di Kota Padang, termasuk pula hal-hal yang memotivasi generasi muda untuk menggunakan tato dan bagaimana persepsi lingkungan sekitar terhadap tren tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh dengan melakukan observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini ditentukan dengan metode <em>purposive </em><em>sampling</em>, yang memungkinkan peneliti memilih informan berdasarkan kriteria yang sesuai dengan yang telah ditentukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi generasi muda dalam menggunakan tato dibagi menjadi dua kategori besar, yaitu motivasi internal dan eksternal. Motivasi internal mencakup keinginan untuk mengekspresikan diri, meningkatkan kepercayaan diri, hingga menyalurkan sisi emosional dalam bentuk simbol visual. Sementara itu, motivasi eksternal dipengaruhi oleh media sosial, lingkungan sosial dan keluarga, serta tuntutan gaya hidup dalam komunitas tertentu. Desain tato yang digunakan pun bersifat personal dan kaya akan narasi makna di dalamnya, seperti kenangan terhadap orang tua, perjuangan melawan gangguan mental, hingga identifikasi terhadap komunitas dan nilai-nilai tertentu. Temuan ini mengindikasikan bahwa tato telah menjadi media komunikasi yang penting bagi generasi muda dalam membentuk dan menyampaikan identitas sosial mereka di tengah kompleksitas budaya urban masa kini.</p>2025-06-30T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Lembaran Antropologihttps://journal.ugm.ac.id/v3/LA/article/view/23817Relevansi Pengobatan Usada Bali dalam Praktik Kesehatan Masa Kini2026-01-07T11:34:11+07:00I Gede Putu Satya Iswaraiswara.2201571009@student.unud.ac.id<p>Penelitian ini membahas relevansi dari pengobatan tradisional Usada Bali di masa kini. Usada Bali merupakan sebuah metode pengobatan tradisional khas Bali yang menggunakan bahan-bahan alam sebagai obatnya, maka usada tergolong ke dalam etnomedisin, yang juga bagian dari etnosain. Data dalam penelitian ini diperoleh dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi literatur. Informan utama dalam penelitian ini adalah <em>balian usada</em>. Berdasarkan temuan di lapangan, usada masih eksis karena kepercayaan masyarakat Bali terhadap dunia niskala yang dapat menyebabkan sakit. Dalam praktiknya, balian berpedoman pada <em>Lontar Usada Budhakecapi</em> yang mengatur <em>sesana</em> dari balian. Temuan dianalisis dengan Teori Sistem Medis dari Foster dan Anderson serta Teori Fungsional dari Bronislaw Malinowski untuk menjelaskan bagaimana eksistensi dan fungsi usada dalam kebudayaan Bali. Meski Pemerintah Provinsi Bali telah menerbitkan regulasi terkait pengobatan ini, terdapat tantangan dan dinamika dalam pengobatan usada, seperti krisis regenerasi akibat rendahnya kemampuan membaca aksara Bali, pertimbangan faktor ekonomi, serta pengaruh pengobatan medis modern.</p>2025-06-30T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Lembaran Antropologihttps://journal.ugm.ac.id/v3/LA/article/view/24226Menitipkan Anak ke Panti Asuhan dalam Sistem Kekerabatan Matrilineal Minangkabau2026-01-07T11:34:06+07:00Yahya Assalamassalamualaikumyahya@gmail.com<p>Fungsi pengasuhan dalam pembentukan keutuhan keluarga di sistem kekerabatan matrilineal masyarakat Minangkabau maupun berdasarkan pada pola formal negara, kini menjadi isu sosial di mana sebagian keluarga memilih panti asuhan sebagai tempat menitipkan anak untuk pengasuhan. Tindakan menitipkan anak ke panti asuhan, lantas menghilangkan peran pengasuhan anak secara kolektif oleh keluarga luas, terutama dari garis keturunan saudara laki-laki ibu disebut dengan ‘<em>mamak’</em>. Penelitian ini bertujuan memahami latar belakang tindakan keluarga menitipkan anak ke panti asuhan serta menganalisisnya melalui teori tindakan sosial Max Weber, sekaligus mengungkap pandangan masyarakat terhadap tindakan tersebut. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, dengan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus terhadap lima keluarga Minangkabau yang menitipkan anak ke panti asuhan di Kota Padang Panjang. Teknik pengumpulan data meliputi observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor ekonomi, tekanan sosial dalam keluarga, kemauan pribadi orang tua, dan pengaruh pihak lain menjadi alasan utama tindakan tersebut. Analisis teori tindakan sosial menunjukkan bahwa tindakan tersebut mencerminkan kombinasi antara rasionalitas instrumental, rasionalitas nilai, dan tindakan afektif. Masyarakat sendiri menunjukkan pandangan yang beragam; sebagian menerima tindakan tersebut atas dasar empati dan realitas ekonomi, sementara sebagian lainnya menolaknya karena dinilai bertentangan dengan nilai adat dan norma pengasuhan Minangkabau. Sebagai temuan, menitipkan anak ke panti asuhan merupakan bentuk adaptasi sosial keluarga menghadapi tekanan ekonomi dan perubahan budaya. Implikasi dari temuan ini menunjukkan adanya transformasi peran keluarga dan munculnya lembaga pengasuhan sebagai aktor penting dalam konteks perubahan sosial Minangkabau pada masa kini.</p>2025-06-30T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Lembaran Antropologihttps://journal.ugm.ac.id/v3/LA/article/view/20540Developmental Refusal and Farmers’ Vulnerabilities in Central Kalimantan Peatlands2026-01-07T11:34:36+07:00Pujo Semedipujosemedi@ugm.ac.idRio Heykhal Belvagebelvage.rio@gmail.com<p>The conversion of peatlands in Central Kalimantan into an intensive food crop production area places farmers in a vulnerable position. Their clear vulnerability stems from their reliance on the market and their exposure to harmful agricultural chemicals. Additionally, government policies promoting the migration of farmers into the peatlands, based on the assumption that local farmers lack the capacity to improve their own circumstances, have created social tension. This research draws on fieldwork and participant observation to analyze the statements of Kalampangan’s local farmers and their demand for land reclamation. In addition, this research also incorporates various online sources, including local and national newspapers, government agencies, journals, and personal blogs. The findings suggest that local farmers are active participants in development who intentionally challenge the government’s negative assessment. Through their demands for fairness and their rejection of state-defined notions of progress, local farmers assert their own values and lived experiences as the basis for defining what “development” should mean.</p>2025-06-30T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Lembaran Antropologihttps://journal.ugm.ac.id/v3/LA/article/view/26572Etnografi untuk Mencatat Perubahan 2026-01-07T11:33:59+07:00Jonathan Alfrendiemailjonathan.a@gmail.com2025-06-30T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Lembaran Antropologihttps://journal.ugm.ac.id/v3/LA/article/view/23322Tempat di mana Waktu Melambat: Care dalam Film Ikatan Tak Terucap2026-01-07T11:34:21+07:00Elan Lazuardielan.lazuardi@ugm.ac.id2025-06-30T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Lembaran Antropologihttps://journal.ugm.ac.id/v3/LA/article/view/25926Pacoa Jara: Pacuan Kuda di Bima2026-01-07T11:34:01+07:00Anugerah Rinaldianugerahrinaldi@mail.ugm.ac.id2025-06-30T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Lembaran Antropologi