Kesenjangan Buruh Minyak di Balikpapan, 1950-1965

  • M. Jaris Almazani Departemen Sejarah, Universitas Gadjah Mada
Keywords: Balikpapan, BPM, Shell, kesenjangan, nasionalisasi

Abstract

Abstrak
Kehadiran Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM)/Shell di Balikpapan sejak masa kolonial turut mengubah lanskap kota itu dan membentuk sebuah kelas sosial baru: buruh minyak. Walau terbagi dalam sekat-sekat etnis dan pangkat, sebagian besar buruh minyak Indonesia mempunyai persamaan nasib dan rutinitas. Meski kedaulatan Indonesia telah diakui pada 27 Desember 1949, hegemoni BPM/Shell di Balikpapan tetap bertahan hingga 22 Juni 1965 saat aset-asetnya diserahkan kepada PN Permina (Perusahaan Minyak Nasional). Kesenjangan antara buruh Indonesia dengan petinggi mereka yang berkebangsaan asing tetap bertahan yang berakibat pada konflik antara buruh Indonesia dengan atasan mereka. Ketidakpuasan mereka memuncak saat para buruh merebut kilang minyak di Balikpapan pada 16 September 1963 dan 23 Januari 1964. Artikel ini mengkaji kesenjangan yang terjadi di kalangan buruh Indonesia dan reaksi mereka terhadap hal tersebut menggunakan metode sejarah. Periode 1950-1965 dipilih karena pada masa itu terjadi pergolakan antara kedua belah pihak yang berujung pada nasionalisasi kilang minyak di Balikpapan. Secara keseluruhan, pada periode tersebut terjadi kesenjangan yang sengaja dipelihara oleh BPM/Shell. Kesenjangan tersebut bisa dilihat pada berbagai fasilitas yang disediakan, seperti perumahan, bioskop, dan kolam renang. BPM/Shell menyediakan fasilitas-fasilitas tersebut untuk dua golongan terpisah, Eropa dan Indonesia. Selain itu, BPM/Shell juga melakukan pembedaan di kalangan buruh Indonesia sendiri melalui pembedaan gaji antara pegawai harian dan bulanan. Perlawanan kaum buruh sering kali dituangkan dalam bentuk protes, kecuali pada 1963 dan 1964 ketika mereka merebut kendali atas semua aset Shell dengan dukungan pemerintah daerah.

Abstract
The presence of the Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM)/Shell in Balikpapan, dating back to the colonial era, has changed the city’s landscape and formed a new social class: oil workers. Despite their division based on ethnicities and ranks, most of the Indonesian oil workers shared a common fate and routine. Even though Indonesian sovereignty was recognized on 27 December 1949, BPM/Shell’s hegemony over Balikpapan persisted until 22 June 1965, when their assets were ceded to PN Permina (Perusahaan Nasional Minyak). The inequality between Indonesian oil workers and their foreign superiors remained. Their discontent peaked on 16 September 1963 and 23 January 1964, when workers seized control of the Balikpapan refinery on both dates. This article examines the inequality among Indonesian oil workers and their reaction towards the inequality they suffered, using historical research methods. The period from 1950 to 1965 was chosen because the various conflicts between the two groups reached a peak with the nationalization of the refinery in Balikpapan. As a whole, during that period, BPM/Shell deliberately maintained inequality among their workers. This can be seen in the various facilities that the company provides, such as housing, cinemas, and swimming pools. BPM/Shell provided these facilities for two separate groups, Europeans and Indonesians. The company also differentiated the wages of Indonesian oil workers based on their status, monthly or daily workers. Workers’ resistance often manifested in the form of protests, except in 1963 and 1964 when they seized control of all Shell assets with the regional governments’ support.

References

Arsip
“Surat DPT Perbum kepada NV De BPM di Balikpapan,” 21 September 1953, dalam Arsip Tekstual Sekretariat Negara Kabinet Perdana Menteri RI 1950-1959 Jilid II, No. 1769, Koleksi Arsip Nasional RI Jakarta.

Buku
Algemeen Verslag van het Inlandsch Onderwijs in Nederlandsch Indië, 1912, Batavia: Javasche Boekhandel & Drukkerij.
Bambang Sulistyo, Menuju Nasionalisasi Pertambangan Minyak di Balikpapan (1930-1965), 2013, dalam Erwiza Erman dan Ratna Saptari (ed.), Dekolonisasi Buruh Kota dan Pembentukan Bangsa, 142-175, Jakarta: KITLV-Jakarta.
Bondan Kanumoyoso, Nasionalisasi Perusahaan Belanda di Indonesia, 2001, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Burhan Djabir Magenda, East Kalimantan: The Decline of a Commercial Aristocracy, 1991, Ithaca: Cornell University Press. Departemen Pertambangan dan Energi, 40 Tahun Peranan Pertambangan dan Energi Indonesia 1945-1985, 1986, Jakarta: Departemen Pertambangan dan Energi.
Gerakan Perbum dan Aspek-Aspeknya dalam Industri Minyak di
Indonesia, 1972, Jakarta: Perusahaan Pertambangan Minyak dan
Gas Bumi Negara.
Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, 2018, Yogyakarta: Penerbit
Tiara Wacana.
Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Kalimantan Timur, Sejarah
Pemerintahan di Kalimantan Timur dari Masa ke Masa, 1992, Samarinda: Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Kalimantan Timur.
Pidato Kawan Fachrul Baraqbah, 1960, dalam Bintang Merah Nomor Special Jilid II, Dokumen-Dokumen Kongres Nasional Ke-VI Partai Komunis Indonesia, 7-14 September 1959, . 500-504, Jakarta: Jajasan Pembaruan.
Soehario Padmodiwirio, Memoar Hario Kecik: Autobiografi Seorang Mahasiswa Prajurit, 1995, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Van Driest, F.L., Memorie van overgave van de onderafdeling Balikpapan, 1931, dalam Inventaris van de Memories van Overgave, 1852-1962, No. 1056, Koleksi Nationaal Archief Den Haag.

Skripsi dan Disertasi
Akhmad Ryan Pratama, Industri Minyak di Balikpapan Dalam Lintasan Kekuasaan 1900-1966, 2012, Skripsi Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Airlangga.
Redfern, William A., Sukarno’s Guided Democracy and the Takeovers of Foreign Companies in Indonesia in the 1960s, 2010, Disertasi University of Michigan.

Artikel Surat Kabar dan Majalah
Amirdjaja, “Berita dari Kalimantan Timur: Di-mana2 ada pertempuran,” Harian Rakjat, 8 Juni 1964, hlm. 2.
“Berita Daerah–Balikpapan,” Harian Rakjat, 22 Juni 1965, hlm. 2.
“Bioskop BPM ditutup Karena angkuh,” Harian Rakjat, 12 September
1960, hlm. 2.
“Borneo,” Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 6 April
1912, hlm. 1.
“B.P.M. bouwt op in Balikpapan,” Java Bode, 18 September 1951, hlm. 2.
“B.P.M. gaat over in Shell-Indonesië,” Algemeen Handelsblad, 28 Maret 1958, hlm. 17.
“BPM hendak ‘di-Inggerisasikan’,” Sin Po, 14 November 1958, hlm. 2.
“Dari Konferensi SOBSI Balikpapan: Rubah peraturan ‘26 Mei’ ambil-alih PT Shell!,” Harian Rakjat, 14 Desember 1963, hlm. 2.
“De ‘relletjes’ te Balikpapan,” De Expres, 13 April 1912, hlm. 2.
Hamdi, “Sahkan Garapan Rakjat Diatas Tanah Konsesi,” Suara Tani, Th. XII, No. 7, Juli 1961, 5, hlm. 7.
“Indonesianisatie bij de B.P.M.,”Algemeen Indisch Dagblad de Preangerbode, 31 Oktober 1957, hlm. 2.
“Kaum buruh minjak Balikpapan laksanakan pemboikotan terhadap
Inggeris,” Harian Rakjat, 20 September 1963, hlm. 2.
“Kaum buruh Balikpapan tuntut PT Shell diambil-alih,” Harian Rakjat,
16 Desember 1963, hlm. 2.
“Keputusan sidang pleno PD FN Kaltim: Ambilalih PT Shell, kalau Inggeris terus bantu Tengku,” Harian Rakjat, 29 Maret 1963, hlm. 2.
“Kol. Suharjo Komisaris Pemerintah Untuk P.T. Shell Balikpapan,”
Harian Rakjat, 23 September 1963, hlm. 1.
“Konferensi PKI Kalimantan Timur: Perhebat pelaksanaan Tri
Komando, sita modal Belanda!,” Harian Rakjat, 21 April 1962, hlm. 2.
Martomo, “Balikpapan selajang pandang: Diskriminasi jang menjolok
mata,” Kedaulatan Rakyat, 21 Juni 1956, hlm. 3.
“Nwe Shell neemt Ind. belangen B.P.M. overm,” Trouw, 10 Maret
1960, hlm. 11.
“Oil town women, children flown to -S’pore,” The Straits Times, 3
Oktober 1963, hlm. 1.
“Pengumuman Pemerintah: Pemerintah mengerti reaksi Rakjat, dan diandjurkan tidak bertindak sendiri-sendiri,” Warta Bhakti, 20 Januari 1964, hlm. 1.
“Perundingan KABM/N.V. BPM Deadlock?,” Nasional, 15 Februari 1951, hlm. 2.
“PT Shell adakan peraturan untuk mengadu-domba buruh,” Harian Rakjat, 21 Agustus 1964, hlm. 2.
“Pemerintah-KABM bitjarakan status BPM/Shell,” Harian Rakjat, 3 Maret 1964, hlm. 2.
“SB2 Minjak Tolak Tenaga Asing Pada PT Shell Balikpapan,” Merdeka,
29 Desember 1962, hlm. 2.
“Shell Balikpapan dan Surabaja: Hanja tunduk pada Pimpinan
Perusahaan Pusat,” Warta Bhakti, 10 Februari 1964, hlm. 2.
“Shell Seluruh Indonesia Diambilalih,” Harian Rakjat, 21 Januari
1964, hlm. 1.
“Tindakan-tindakan balasan makin meluas: P.T. Shell diambil alih
buruh,” Warta Bhakti, 20 Januari 1964, hlm. 1.
Published
2026-02-13