Mereka yang Terus Bertahan: Sejarah Kehidupan Sosial Sehari-Hari Masyarakat Kota Yogyakarta pada Masa Krisis Moneter 1998
Abstract
Abstrak
Krisis moneter yang pernah melanda Indonesia pada tahun 1997-1998 merupakan suatu periode yang penuh tantangan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Krisis ini memiliki dampak yang luas, yakni tidak hanya pada sektor makro tetapi juga secara langsung menghantam sektor mikro, termasuk kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Terdepresiasinya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, disertai lemahnya sistem perbankan dan ketidakstabilan sosial-politik, menandakan bahwa sebagian masyarakat masih rentan terhadap tekanan ekonomi. Penelitian ini berfokus pada pengalaman masyarakat Yogyakarta sebagai salah satu wilayah yang terdampak dengan melihat bagaimana krisis moneter 1998 telah mengubah pola-pola kehidupan masyarakat. Dengan pendekatan kehidupan sosial sehari-hari, tulisan ini berusaha untuk merekonstruksi bagaimana kehidupan sosial sehari-hari masyarakat Yogyakarta dapat bertahan pada masa krisis baik dari aspek pengalaman maupun emosional. Temuan penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Yogyakarta dapat bertahan dari badai krisis dengan melakukan aksi-aksi strategis seperti melakukan diversifikasi pekerjaan, berwirausaha, serta merubah pola-pola hidup keseharian guna menangguhkan ketahanan ekonomi.
Abstract
The monetary crisis that hit Indonesia in 1997-1998 was a challenging period for most Indonesians. This crisis had a widespread impact, not only on the macro sector but also directly on the micro sector, including the daily lives of Indonesians. The depreciation of the rupiah against the US dollar, coupled with a weak banking system and socio-political instability, indicated that some people were still vulnerable to economic pressures. This study focuses on the experiences of the people of Yogyakarta, one of the areas affected, by looking at how the 1998 monetary crisis changed people’s lifestyles. Using a daily social life approach, this paper attempts to reconstruct how the daily social life of the people of Yogyakarta was able to survive during the crisis, both in terms of experience and emo- tion. The findings of the study show that the people of Yogyakarta were able to weather the storm of the crisis by taking strategic actions such as diversifying their jobs, becoming entrepreneurs, and changing their daily lifestyles in order to maintain economic resilience.
References
Badan Pusat Statistik. (2020) Tingkat Pengangguran Terbuka di D. I Yogyakarta dan Indonesia, 1986-2004. BPS DIY.
Buku
Booth, Anne., (1998). The Indonesian Economy in the Nineteenth and
Twentieth Centuries: A History of Missed Opportunities. St. Martin’s Press.
M. Baiquni, (2007). Strategi Penghidupan di Masa Krisis. Yogyakarta:
IdeAs Media.
Artikel
R. Harini & U. Listyaningsih, (2001). “Perubahan Strategi Bertahan Hidup Wanita Kepala Rumah Tangga di Masa Krisis (Studi Kasus Kecamatan Umbulharjo Daerah Istimewa Yogyakarta)”. Majalah Geografi Indonesia, Vol. 15(1), hlm. 47-62.
A. Nainggolan, dkk., (2024). “Resilient Indonesia: Melangkah Tegar Menghadapi Krisis Moneter dan Membangun Kembali Perekonomian 1997-2000an”. Jurnal Senja: Sejarah dan Humaniora, 2(2),hlm. 36-50.
A. Nasution, (2000). “The Meltdown of the Indonesian Economy: Causes, Responses, and Lessons”. ASEAN Economic Bulletin, Vol. 17(2), hlm, 148-162.
A. Pitoyo, (1999). “Pedagang Kaki Lima pada Masa Krisis”. Populasi, Vol. 10 (2), hlm. 73-97.
L. Tarmidi, (1999). “Krisis Moneter Indonesia: Sebab, Dampak, Peran IMF, dan Saran”. Bulletin of Monetary Economics and Banking, Vol. 1(4), hlm. 1-25.
Artikel Surat Kabar
“Konsumen Tinggalkan Merek Terkenal”, Kedaulatan Rakyat, 1 Maret 1998.
“Tiga Jam, Tiga Motor Dicuri”, Kedaulatan Rakyat 2 Maret 1998.
“Imbas Krisis Moneter dalam Rumah Tangga, Membuat Beban Ibu Semakin Meningkat”, Kedaulatan Rakyat, 3 Mei 1998.
“Dampak Krismon Terhadap Usaha Warung Lesehan dan Daya Beli Masyarakat”, Kedaulatan Rakyat, 4 Mei 1998.
“Naiknya Harga Barang Kebutuhan Pokok di Berbagai Pusat Belanja”,
Kedaulatan Rakyat, 5 Mei 1998.
“Kenaikan Harga BBM Menyebabkan para Grosir, Pedagang Eceran,
dan Konsumen Menjerit”, Kedaulatan Rakyat. 6 Mei 1998.
“Setelah Diberlakukan Harga Baru, Sejumlah SPBU di Yogyakarta Mengalami Penurunan Penjualan”, Kedaulatan Rakyat, 7 Mei
1998.
“Sebagian Pusat Kegiatan Masih Tutup”, Kedaulatan Rakyat, 17 Mei
1998.
“Imbas Kerusuhan di Solo, Pedagang Sayur Menjerit”, Kedaulatan
Rakyat, 18 Mei 1998.
“Dalam Semalam, Dua Motor Lenyap”, Kedaulatan Rakyat, 18 Mei
1998.
“Empat Motor Dilaporkan Raib”, Kedaulatan Rakyat, 19 Mei 1998.
“Beberapa Toko Sudah Buka Lagi”, Kedaulatan Rakyat, 19 Mei 1998.
“Pasar Beringharjo Tetap Buka, Para Pedagang Pilih Libur”, Kedaulatan Rakyat, 20 Mei 1998.
“Pasar, Stasiun, dan Terminal Sepi”, Kedaulatan Rakyat, 21 Mei 1998.
“Pasar, Toko, dan Angkutan Normal Kembali”, Kedaulatan Rakyat, 22 Mei 1998.
“Maraknya Kasus Pencurian Motor”, Kedaulatan Rakyat, 25 Mei 1998.
“Ditodong, Regi Serahkan Motor”, Kedaulatan Rakyat, 25 Mei 1998.
“Hari Ini Sekaten Dibuka”, Kedaulatan Rakyat, 29 Mei 1998.
“Harga Minyak Goreng Tak Menentu”, Kedaulatan Rakyat, 2 Juni 1998.
“Di-PHK, Larikan Sepeda Motor”, Kedaulatan Rakyat, 3 Juni 1998.
“Uang Rp15,5 juta Dijambret”, Kedaulatan Rakyat, 5 Juni 1998.
“Beras Gratis dari Desainer Mode”, Kedaulatan Rakyat, 7 Juni 1998.
By publishing articles in the Histma, author(s) agree to transmit the publication right to Histma under the Creative Commons. Thus, you are allowed to access, copy, transform and redistribute the articles under any lawful purposes by giving proper credit to the original author(s) and Histma as well.
Histma uphold the rights to store, convert or reformat media, manage within its database, maintain and publish article without the consent of the author with full acknowledgement of author rights as copyright owner.
The article is published in print and electronic form. The electronic form is open access for the purpose of education and research.