Bertaruh Hidup di Tebing Karang: Perburuan Sarang Burung Walet di Pesisir Jawa Selatan, 1930-an

  • Hanifa Zuhdi Ahmadi Departemen Sejarah, Universitas Gadjah Mada
  • Farhan Arkan Daradjat Departemen Sejarah, Universitas Gadjah Mada
Keywords: Sarang burung walet, Komoditas, Preanger Selatan, Rongkop, Karangbolong

Abstract

Abstrak
Sarang burung walet merupakan komoditas yang cukup digemari di Jawa pada tahun 1930-an, khususnya oleh kalangan orang Tionghoa baik untuk dikonsumsi sebagai makanan maupun obat. Beberapa saudagar Tionghoa bahkan menjadi penyewa dari tempat-tempat penambangan sarang burung walet, seperti di wilayah Preanger Selatan, Karang Bolong, dan Rongkop. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan proses pemetikan sarang burung walet hingga proses perdagangannya. Berdasarkan sumbersumber sezaman, penelitian ini menemukan bahwa perburuan sarang walet tidak dapat dilepaskan dari interaksi antara pemerintah kolonial, penyewa sebagai pemilik modal, serta masyarakat Bumiputera sebagai pemetik bayaran yang harus berhadapan langsung dengan situasi bahaya dalam pekerjaannya.

Abstract
Swiftlet nests were a popular commodity in Java in the 1930s, particularly among the Chinese community, both for food and medicinal consumption. Some Chinese merchants even rented out the swiftlet nest mining sites, such as in the South Preanger, Karang Bolong, and Rongkop regions. This study aims to describe the process of harvesting swiftlet nests and their trade. Based on contemporary sources, this study found that swiftlet nest hunting was inextricably linked to interactions between the colonial government, the renters as capital owners, and the indigenous community as paid pickers who faced direct dangers in their work.

References

Buku
G. Hasibuan, E. Royani & H. Slamet, (2025). Dilema Usaha Sarang Burung Walet Keuntungan Ekonomi dan Dampak Bagus, Penerbit Amerta Media.
Mayantoko Kandal, Budidaya Burung Walet, 2019, Yogyakarta: Indopublika.
Setyo Wibowo, Budidaya Sarang Burung Walet, 1995, Surabaya: Arkola.
Tim Mitra Agro Sejati, Budi Daya Sarang Burung Walet, 2017, Sukoharjo: CV Pustaka Bengawan.
Venema, S., Een onderwijzersgezin in Indie, 1934 Den Haag: G. B Van Goor Zonen NV.

Skripsi
Siti Arofah, “Budidaya Sarang Walet di Gresik Tahun 1901-1980”, Skripsi, 2016 Surabaya: Universitas Airlangga, Surabaya.
Siti Muntofingah, “Perdagangan Sarang Burung Walet di Kabupaten Kebumen”, Skripsi, 2016 Semarang: Universitas Diponegoro.

Artikel
Wahyuni, D.S., Latif, H., & Basri, C. (2022) “Pola Pemeliharaan Burung Walet pada Pulau-Pulau Utama Penghasil Sarang Burung Walet di Indonesia”, Jurnal Sain Veteriner, Vol. 40(2) hlm. 117-127.
Florida, N. K. (1992). The Badhaya Katawang: A Translation of the Song of Kanjeng Ratu Kidul. Indonesia, 53, 21–32.

Majalah
Anoniem, Mooi Bandoeng; maandblad van Bandoeng en omstrekenofficieel orgaan van de Vereeniging “Bandoeng Vooruit” 1934, Nix Bandoeng.
Anoniem, De jonge wacht: Weekblad voor de rk georganiseerde jeugd in Nederland, 1936, Utrecht: Centraal Comité tot Behartiging der RK Patronaatsbelangen in Nederland, Utrecht.

Surat Kabar
Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 23 November 1929. Bataviaasch nieuwsblad, 21 Mei 1931.
De locomotief, 20 Desember 1935.
De locomotief, 09 Oktober 1939.
Djawa tengah, 4 Februari 1919.
Djawa tengah, 22 Oktober 1924.
Djawa tengah, 27 Januari 1931.
Djawa tengah, 20 Mei 1931.
Djawa tengah, 30 Juni 1932.
Djawa tengah, 17 September 1932.
Djawa Tengah, 23 April 1934.
Djawa tengah, 5 September 1934
Published
2026-02-13