Makna Simbolik Perahu Paledang pada Komunitas Pemburu Paus dan Penenun di Desa Lamalera, Pulau Lembata

  • Jesica Herlin Lerrick Alumni Universitas Gadjah Mada, Indonesia
  • J. Susetyo Edy Yuwono Departemen Arkeologi, Universitas Gadjah Mada, Indonesia
Keywords: Ethnoarchaeology, Paledang, Lamalera, Ikat Weaving, Symbolism, Tenun Ikat, Simbolisme

Abstract

The traditional Paledang boat holds a central position in the lives of the Lamalera community on Lembata Island. The profound meaning of this vessel is not only evident in maritime life, but is also visually woven into the motifs of local ikat weaving. This study aims to understand how the Lamalera community interprets the form of the Paledang boat, both as a whaling vessel and as a motif in the woven textiles they produce. Using an ethnoarchaeological approach, this research analyzes two cultural objects through five variables: construction techniques, temporal and spatial contexts, traditional organization, ceremonial and ritual practices, and the utilization of the Paledang boat and its motif in Lamalera ikat weaving. The findings indicate that the Paledang is not merely a tool for whaling, but also represents identity, courage, and a spiritual connection with the sea. Meanwhile, the Paledang motif in Lamalera ikat weaving is not only an aesthetic decoration, but also carries important social and symbolic meanings, particularly in relation to women’s status and exchange within the socio-economic networks of the Lamalera community.

===

Perahu Paledang memiliki kedudukan sentral bagi masyarakat Lamalera, Pulau Lembata. Kuatnya makna perahu ini tidak hanya hidup di lautan, tetapi juga terekam secara visual dalam motif kain tenun ikat lokal. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pemaknaan masyarakat Lamalera terhadap bentuk perahu Paledang, baik sebagai sarana perburuan paus maupun sebagai motif kain tenun yang mereka produksi. Dengan pendekatan etnoarkeologi, penelitian ini menganalisis dua objek budaya melalui lima variabel pengamatan: teknik pembuatan, waktu dan tempat pelaksanaan, organisasi tradisional, upacara dan ritual, serta pemanfaatan perahu Paledang dan motif perahu Paledang pada kain tenun Lamalera. Hasil penelitian menunjukkan luasnya makna perahu Paledang yang bukan sekadar alat berburu paus, melainkan wujud identitas, keberanian, dan hubungan spiritual dengan laut. Di sisi lain, motif Paledang dalam tenun tidak hanya sebagai hiasan estetis, tetapi juga sarat makna sosial dan simbolik, khususnya dalam konteks status perempuan dan pertukaran dalam jaringan sosial-ekonomi masyarakat Lamalera.

References

Barnes, R., & Hall, L. M. (1984). The Ikat Textile of Lamalera, Lembata: Within The Context of Eastern Indonesian Fabric Tradition.

--------. 1989. “The Bridewealth Cloth of Lamalera, Lembata” In Matiebelle Gittinger (ed). To Speak with Cloth: Studies in Indonesian Textile. Los Angeles: University of California.

Beraona, J. D. (2015, September 4). Tenun Ikat Lamalera yang Eksotis. MediaNTT.

Beraona, J. D. (2019, May 1). Nyanyian laut dan tradisi berburu paus dari Lamalera. MediaNTT.

Desrianti, F. (2011). Perubahan Sosial Masyarakat Nelayan Lamalera (Sudut Pandang Sosiologi Ekonomi dan Ekologi).

Herlambang, D. (2021, December 10). Kain Tenun Rote, Simbol Sosial di Masa Lampau. Valid News.

Kementerian Kelautan dan Perikanan. (2014). Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 6/KEPMEN-KP/2014 Tahun 2014 tentang Rencana Pengelolaan Dan Zonasi Taman Nasional Perairan Laut Sawu Dan Sekitarnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2014 – 2034. Jakarta.

Kurniasari, N., & Reswati, E. (2011). Kearifan Lokal Masyarakat Lamalera: Sebuah Ekspresi Hubungan Manusia dengan Laut. In Buletin Riset Sosek Kelautan dan Perikanan (Vol. 6, Issue 2).

Lerrick, Jesica., & JSE. Yuwono. (2025). Pemaknaan Perahu Paledang pada Masyarakat Pemburu Paus dan Perajin Tenun Tradisional di Lamalera, Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur: Kajian Etnoarkoelogi. Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.

Livingston, J. H. (1994). Ikat Weaves of Indonesia and India: A Comparative Study. In Quarterly (Vol. 21, Issue 1).

Malonda, J. E. (2020). Pahatan Cadas Situs Liang Pu’en Kabupaten Lembata, NusaTenggara Timur.

Nahak, L., Agus, S., Kotten, & Idam Rosalia. (1997). Paledang: Perahu Pemburuan Ikan Paus.

Ohoirat, A. L., Geong, E., & Gromang, Y. B. (2019). Kajian Etnomatematika pada Budaya Penangkapan Ikan Paus dan Sistem Barter Masyarakat Desa Lamlera, Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Richardson, S., & David. (2025). Ilé Apé Textiles 3. Asian Textile Studies.

Sinaga, T., & Triwibowo. (2023, December 9). Katarina Kremo Tapoona “Memelihara Tenun Lamalera.” Kompas.

Statistik Daerah Kabupaten Lembata. (2023). Badan Pusat Statistik Kabupaten Lembata.

Statistik Indonesia 2024. (2024). Badan Pusat Statistik Indonesia. Jakarta; Vol 54, 2024.

Tanudirjo, D. (2009). “Memikirkan Kembali Etnoarkeologi” dalam Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 1 No. 2 / November 2009. Jayapura: Balai Arkeologi Papua. Hlm 1-15.

Published
2025-12-29
How to Cite
Lerrick, J. H., & Yuwono, J. S. E. (2025). Makna Simbolik Perahu Paledang pada Komunitas Pemburu Paus dan Penenun di Desa Lamalera, Pulau Lembata. JANUS, 3(2), 133-165. https://doi.org/10.22146/janus.23821
Section
Articles