Peranan Hasil Hutan Bukan Kayu dalam Pembangunan Hutan Kemasyarakatan di Perbukitan Menoreh (Kasus di Desa Hargorejo, Kokap, Kulonprogo, D.I.Yogyakarta)

https://doi.org/10.22146/jik.10170

Maria Palmolina(1*)

(1) Balai Penelitian Teknologi Agroforestry Ciamis Jl. Raya Ciamis-Banjar Km 4, Ciamis 46201
(*) Corresponding Author

Abstract


Pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dalam berbagai program pembangunan kehutanan yang mengutamakan fungsi lingkungan, sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat lokal diharapkan dapat mewujudkan kelestarian hutan. Salah satu program pembangunan kehutanan adalah Hutan Kemasyarakatan (HKm). Kajian ini bertujuan untuk mengetahui peranan HHBK dalam pembangunan HKm yang dilakukan di Perbukitan Menoreh dengan kasus di Desa Hargorejo, Kokap, Kulon Progo. Data dikumpulkan pada bulan Januari hingga Juni 2013 melalui wawancara secara mendalam terhadap 10 informan dan penyebaran kuesioner terhadap 35 orang anggota kelompok tani yang memiliki lahan garapan di HKm. Jenis tanaman kayu yang dominan dikembangkan adalah tanaman jati, mahoni, dan akasia. Sementara tanaman HHBK yang ditanam adalah tanaman buah (pisang, nangka), tanaman pangan (singkong, jagung, kedelai, kacang tanah), serta tanaman herbal (jahe, kunyit, temulawak). Pengelolaan HKm dilakukan secara swadaya dengan didampingi Yayasan DAMAR. Selain kondisi lingkungan menjadi hijau dan sejuk (66% responden menyatakan lingkungan desa menjadi lebih hijau dan sejuk), debit air bertambah (76% responden menyatakan persediaan air banyak), dampak positif pengelolaan HKm di Desa Hargorejo adalah juga memberikan kontribusi ekonomi pada rumah tangga petani (terjadi pengurangan prosentasi kondisi ekonomi petani kurang baik dari 80% menjadi 52% setelah adanya akses HKm).

Kata kunci: HHBK, hutan kemasyarakatan, Menoreh, program pengembangan, manfaat hutan

The roles of Non Timber Forest Products in the development of community forestry in Menoreh Hills (A case of Hargorejo Village, Kokap, Kulon Progo Regency, Yogyakarta

Abstract

Development of Non-Timber Forest Products (NTFPs) in various forestry development program that promotes the function of environmental, social, economic, and culture of local communities is expected to create sustainability. One of the forestry development programs are Community Forest (HKm). This study aimed to determine the role of NTFPs in community forest development which was done in Menoreh Hills in Hargorejo’s Village, Kokap, Kulon Progo’s Regency. Data were collected in January until June 2013 with in-depth interviews to 10 informers and by questioners to 35 members of the group of farmers who had arable land in HKm. The dominant type of timber plants were teak, mahogany, and acacia. Further, the NTFPs plants grown were fruit crops (banana, jackfruit), food crops (cassava, corn, soybeans, peanuts), and herbs (ginger, turmeric, temulawak). The management of HKm was conducted independently by DAMAR fondation. In addition to the condition of being green and cool environment (66% of respondents said the village environment becomes greener and cooler), increased water discharge (76% of respondents expressed a lot of water supplies), the positive impact of community forest management in Hargorejo’s Village was also the contribution to the household economy of farmers (a reduction in the percentage of less well economic conditions of farmers from 80% to 52% after the access HKm).


Keywords


NTFPs; community forest; Menoreh; development program; forest benefit

Full Text:

PDF


References

  1. Arnold JE & Perez MR. 1999. The Role of Non-Timber Forest Products in Conservation and Development. Incomes from The Forest: Methods for Development and Conservation of Forest Products for Local Communities. CIFOR, Bogor.
  2. Badan Pusat Statistik Kecamatan Kokap. 2010. Kecamatan Kokap dalam Angka. BPS, Yogyakarta.
  3. Budi. 2012. Pengetahuan Lokal Masyarakat dalam Pengelolaan Pekarangan dan Tegalan di Perbukitan Menoreh Kabupaten Kulon Progo. Tesis (Tidak Dipublikasikan). Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
  4. Desa Hargorejo. 2010. Monografi Desa Hargorejo. Yogyakarta.
  5. Departemen Kehutanan. 1999. Undang-undang Kehutanan Nomor 41 tahun 1999 tentang kehutanan. Salinan Kepala Biro Hukum dan Organisasi. Departemen Kehutanan dan Perkebunan, Jakarta.
  6. Departemen Kehutanan. 2007. Peraturan Menteri Kehutanan No. 35 tahun 2007 tentang Hasil Hutan Bukan Kayu. Departemen Kehutanan, Jakarta.
  7. Departemen Kehutanan. 2007. Peraturan Pemerintah (PP) No. 6 tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan Departemen Kehutanan, Jakarta.
  8. Kementerian Kehutanan. 2013. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 9 tahun 2013 tentang Tatacara Insentif Rehabilitasi Hutan dan Lahan. Kementerian Kehutanan, Jakarta.
  9. Purwanto AB, Triyono S, Azizah SY, & Kurniawan F. 2014. http://arupa.or.id/sources/uploads/2014/09/Tebang-Butuh-Desa-Terong-Study-kasus.pd.
  10. Puspitojati T, Rachman E, & Ginoga K. 2013. Hutan Tanaman Pangan Realitas, Konsep dan Pengembangan. Balai Penelitian Teknologi Agroforestry, Ciamis.
  11. Sudarmalik Y, Rochmayanto, & Purnomo. 2006. Peranan Beberapa Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) di Riau dan Sumatera Barat. Prosiding Seminar Hasil Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan Riau. 199-219.
  12. Yin RK. 2008. Studi Kasus: Desain dan Metode, Edisi 1-8. Penerjemah: Mudzakir MD PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.



DOI: https://doi.org/10.22146/jik.10170

Article Metrics

Abstract views : 1582 | views : 739

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2014 Jurnal Ilmu Kehutanan




© Redaksi Jurnal Ilmu Kehutanan
Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada
Jl. Agro No 1, Bulaksumur, Sleman 55281
Telp. (0274) 512102, 550541, 6491420
Fax. (0274) 550541 E-mail : jik@ugm.ac.id
website : jurnal.ugm.ac.id/jikfkt/

 

Indexed by :

Jurnal Ilmu Kehutanan/Journal Forest Science is under the license of Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International

Creative Commons License

View My Stats