Pesantren Waria dan Konstruksi Identitas

https://doi.org/10.22146/jps.v2i1.23415

Umi Latiefah(1*)

(1) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM
(*) Corresponding Author

Abstract


Tulisan ini menjelaskan bagaimana waria memandang dirinya melalui masyarakat dan bagaimana pula sebaliknya masyarakat memandang identitas waria.Pada realitanya waria masih mendapatkan perlakuan diskriminatif karena identitasnya dipandang sebagai suatu penyimpangan. Pandangan ini berakibat pada penempatan waria sebagai kaum subaltern atau termarjinalkan, akan tetapi masyarakat sudah mulai terbuka dan menerima waria karena dilihat dari individunya bukan dari identitasnya, namun masyarakat sebagian besar belum bisa menerima identitasnya sebagai waria. Waria melakukan berbagai cara agar bisa diterima masyarakat salah satunya melalui pesantren. Pesantren sebagai alat untuk merekonstruksi identitas waria yang memberikan gambaran tentang image waria yang positif. Keberadaan pesantren khusus waria berhasil merekonstruksi identitas waria dengan menciptakan konstruksi baru yang mampu memberikan gambaran kepada masyarakat bahwa waria memiliki sisi positif dan masyarakat menyakini adanya perbedaan tingkah laku antara waria yang di pesantren dengan waria yang tidak ikut pesantren.


Kata Kunci: waria, pesantren, identitas, subaltern.


Full Text:

PDF



DOI: https://doi.org/10.22146/jps.v2i1.23415

Article Metrics

Abstract views : 1893 | views : 3479

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2016 Jurnal Pemikiran Sosiologi



Jurnal Pemikiran Sosiologi Indexed by:

Crossref Member Badge      

ISSN 2252-570X (Print), ISSN 2502-2059 (online).


free
web stats View my stats