Hubungan Durasi Terapi Anti Tuberkulosis Kategori I Dengan Kejadian Hepatotoksisitas Pada Pasien Tuberkulosis Di Rawat Jalan Rumah Sakit Islam Sunan Kudus

https://doi.org/10.22146/farmaseutik.v22i2.116952

Nabila Aulia Putri(1*), Endang Setyowati(2), Fahrudin Arif(3)

(1) Universitas Muhammadiyah Kudus
(2) Universitas Muhammadiyah Kudus
(3) Universitas Muhammadiyah Kudus
(*) Corresponding Author

Abstract


Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular akibat infeksi Mycobacterium tuberculosis. Tingginya kasus penemuan penyakit TB baru menyebabkan penggunaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) mencakup isoniazid, rifampisin, dan pirazinamid yang bersifat hepatotoksik semakin meningkat dan penggunaannya dalam jangka waktu yang lama dapat meningkatkan risiko kejadian hepatotoksisitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan durasi terapi anti tuberkulosis kategori I dengan kejadian hepatotoksisitas pada pasien tuberkulosis di rawat jalan Rumah Sakit Islam Sunan Kudus. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif observasional analitik dengan desain case cohort yang bersifat Retrospektif, dilakukan pada bulan Januari - Desember 2025. Pengambilan sampel menggunakan teknik sampel total yaitu pada 14 pasien TB paru, dan pengumpulan data menggunakan data sekunder dari Rekam Medis pasien TB paru kategori I. Metode analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Spearman Rank dan uji Mann-Whitney U. Pola terapi yang diberikan pada pasien TBC paling banyak yaitu OAT KDT (isoniazid 150 mg, rifampisin 75 mg, pirazinamid 400 mg, dan etambutol 275 mg) pada fase intensif. Persentase kejadian hepatotoksisitas pada fase intensif hanya terjadi pada 1 pasien (9,1%) dan tidak terjadi hepatotoksisitas pada fase intensif dan lanjutan pada 13 pasien (90,9%). Hasil analisis menunjukkan nilai ρ value = 0,602 dan r = -0,145.


Keywords


Durasi Terapi, Hepatotoksisitas, Obat Anti Tuberkulosis, Rumah Sakit, Tuberkulosis



References

Ardiani, & Azmi. (2021). Identifikasi Kejadian Hepatotoksik pada Pasien Tuberkulosis dengan Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Sjahranie. Borneo Student Research, 3(1), 978–985. https://journals.umkt.ac.id/index.php/bsr/article/view/2334

Arisandi, & Novitry. (2024). Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Tuberkulosis Di Rumah Sakit Umum Daerah. Lentera Perawat, 5(1), 123–133.

Christine. (2021). Karakteristik Penderita Tuberkulosis di Wilayah Kerja Puskesmas Kinovaro Kabupaten Sigi. Banua: Jurnal Kesehatan Lingkungan, 1(1), 7–12. https://doi.org/10.33860/bjkl.v1i1.417

Dasuki, Muti, & Yusmaini. (2020). Faktor Resiko Kejadian Peningkatan Kadar Transminase Pada Penggunaan Obat Antituberkulosis Pasien Tuberkulosis Paru di RST Wijayakusuma Purwokerto. Jurnal Farmasi Indonesia, 12(2), 134–144. https://doi.org/10.35617/jfionline.v12i2.55

Handayani. (2024). Studi Epidemiologi Tuberkulosis Paru (TB) di Indonesia: Temuan Survey Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Jurnal Kendari Kesehatan Masyarakat (JKKM), 4(1), 59–67. https://doi.org/10.37887/jkkm.v4i1.1213

Huang, Peng, Lei, Chen, Zhu, Cai, Deng, & Chen, J. (2023). Time of Liver Function Abnormal Identification on Prediction of the Risk of Anti-tuberculosis-induced Liver Injury. Journal of Clinical and Translational Hepatology, 11(2), 425–432. https://doi.org/10.14218/JCTH.2022.00077

Isbaniah, Burhan, Sinaga, Yanifitri, Handayani, Harsini, Agustin, Artika, Aphridasari, Lasmaria, Russilawati, Soedarsono, & Sugiri. (2021). Tuberkulosis Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. In Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (Edisi Revi). Perhimpunana Dokter Paru Indonesia.

Kemenkes. (2024). Kasus TBC Tinggi Karena Perbaikan Sistem Deteksi dan Pelaporan. Kemenkes Hebat, Indonesia Sehat. https://share.google/86MUk9xml8EFzvdlM

Kemenkes. (2025). Kemenkes temukan 600.698 kasus TBC per 27 September 2025. ANTARA. https://share.google/iwIvZo1nL0mEFkLng

Luthariana, Karjadi, Hasan, & Rumende. (2021). Risk Factors of Antituberculosis Induced-Hepatotoxicity among HIV / AIDS Patients Faktor Risiko Terjadinya Hepatotoksisitas Imbas Obat Antituberkulosis pada Pasien HIV / AIDS. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia, 4(1), 23–28.

Mahayanti, & Sudarsana. (2022). Laporan Kasus: Drug-induced liver injury pada pasien tuberkulosis relaps. In Intisari Sains Medis (Vol. 13, Issue 3). https://doi.org/10.15562/ism.v13i3.1554

Manullang, Adistira, Siregar, & Manalu. (2025). Faktor Risiko yang Berkaitan dengan Insidensi TB Paru. Surya Medika: Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan Dan Ilmu Kesehatan Masyarakat, 20(2), 141–151. https://doi.org/10.32504/sm.v20i2.1192

Nisak, Fahdhienie, & Ichwansyah. (2024). Faktor Risiko Kejadian Tuberkulosis (TB) Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar. Jurnal PromotiF PREVENTIF, 7(1), 90–96.

Nurhuda, Annisa, Siana, & Ramadhani. (2024). Gambaran Kadar SGOT, SGPT, dan Bilirubin Pada Pasien Kolelitiasi di RSI Siti Rahmah Pada Tahun 2021-2023. Nusantara Hasana Journal, 3(8), 306–317.

Oktadiani, Fauzia, & Muharrami. (2024). Pola Penggunaan Obat pada Pasien Rawat Intensif di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau. Jurnal Ilmu Kedokteran, 18(2), 121–129.

Presticasari, Ulfa, Retnowati, & Setyowati. (2021). Hubungan Karakteristik Dengan Periode Rawat Inap Pasien Covid-19 Yang Mendapat Terapi Favipiravir Dirumah Sakit Mitra Bangsa Pati. Indonesia Jurnal Farmasi, 6(2), 63–70. https://doi.org/10.26751/ijf.v6i2.1763

Putri, & Widodo. (2021). Kadar SGOT, SGPT, dan Bilirubin Total pada Pasien Tuberkulosis Paru. Jurnal Laboratorium Medis, 03(01), 13–23. https://doi.org/10.31983/jlm.v3i1.7917

Rokiban, & Maykasari. (2024). Evaluasi Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Pada Pasien TB Paru Di Puskesmas Punggur Kabupaten Lampung Tengah Periode Oktober 2022 - Oktober 2023. Jurnal Farmasi IKIFA, 3(1), 59–70.

Sari, & Andriani. (2024). Kajian Hubungan Penggunaan Obat Antituberkulosis Fase Awal Terhadap Kadar SGOT-SGPT Pada Pasien TBC Paru Di Rsud Pasar Rebo Jakarta. Jurnal Kesehatan Tambusai, 5(4), 10783–10792. https://doi.org/10.31004/jkt.v5i4.34066

Sopacuaperu, Wowor, & Naziyah. (2024). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Penyakit Tuberkulosis Paru Di XYZ. Jurnal Ilmiah Sain Dan Teknologi, 2(3), 166–177. https://jurnal.kolibi.org/index.php/scientica/article/view/1134/1060

Sulistya, & Perwitasari. (2022). Monitoring efek samping hepatotoksisitas obat antituberkulosis di RS X Yogyakarta. Farmagazine, 9(2), 1–7. https://doi.org/10.47653/farm.v9i2.601

Syamsuddin, Nurliah, & Marukai. (2025). Hubungan Fase Pengobatan Dengan Status Gizi Pasien Tuberculosis Paru di RSUD Toto Kabila Kabupaten Bone Bolango. Jurnal Ners, 9(3), 3773–3783. https://doi.org/10.31004/jn.v9i3.44974

Wulansari, Setyani, & Puspasari. (2025). Kualitas Hidup Pasien Tuberkulosis Paru Berdasarkan Indeks Massa Tubuh. Jurnal Keperawatan Malang (JKM), 10(01), 91–100. https://jurnal.stikespantiwaluya.ac.id/

Yudhaswara, Susilawati, & Udju. (2024). Hubungan Lama Pengobatan Dengan Kadar SGOT dan SGPT Pada Pasien Tuberkulosis. Journal of Nursing & Health, 9(3), 299–306. https://doi.org/10.52488/jnh.v9i3.373



DOI: https://doi.org/10.22146/farmaseutik.v22i2.116952

Article Metrics

Abstract views : 23

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


©Majalah Farmaseutik
 ISSN 2406-9086
Faculty of Pharmacy
Universitas Gadjah Mada
 
 
web
analytics 

Creative Commons Licence 
 
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License