Persepsi Pembudidaya Udang dalam Pengembangan Usaha Tambak Berkelanjutan di Pantai Selatan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah

https://doi.org/10.22146/jfs.36520

Perbawa Agung Iman Tohari(1), Suadi Suadi(2*), Subejo Subejo(3)

(1) Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
(2) Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
(3) Departemen Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
(*) Corresponding Author

Abstract


Perkembangan teknologi budidaya dan permintaan pasar udang yang meningkat terus mendorong ekspansi budidaya udang termasuk di lahan berpasir atau lahah marjinal di Pantai Selatan Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tenggah (Jateng). Budidaya udang ini di satu sisi memberikan kontribusi positif bagi perekonomian masyarakat pesisir dan negara, di sisi lain menghasilkan eksternalitas negatif terhadap lingkungan karena pengelolaan yang kurang bertanggungjawab. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi pembudidaya udang tentang pola budidaya udang yang berkelanjutan dan sikap serta tindakan mereka dalam pengelolaan usaha budidaya udang secara berkelanjutan di DIY dan Jateng. Penelitian dilakukan di lokasi terpilih, yaitu: (1) Pantai Pandansimo, Desa Poncosari, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul; (2) Pantai Pasir Kadilangu, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo; dan (3) Pantai Keburuhan, Desa Keburuhan, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, dengan total responden 80 pembudidaya udang. Persepsi diukur dengan Skala Likert yang meliputi empat dimensi budidaya udang berkelanjutan, yang meliputi 5 (lima) aspek: teknis (7 sub-indikator), ekonomi (9 sub-indikator), lingkungan (7 sub-indikator), dan sosial (6 sub-indikator) serta kelembagaan (5 sub-indikator). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek ekonomi secara akumulatif memiliki nilai tertinggi (0,73), sebaliknya aspek kelembagaan dan lingkungan dengan nilai terendah, yaitu masing-masing 0,64 dan 0,67. Hasil ini menunjukkan bahwa perhatian utama usaha ini masih pada aspek ekonomi, sedangkan aspek lingkungan dan kelembagaan masih belum menjadi prioritas.  Karena itu, pemahaman terhadap praktek budidaya udang berkelanjutan masih perlu ditingkatkan.

Keywords


Berkelanjutan, budidaya, DIY, Jawa Tengah, persepsi, tambak, udang

Full Text:

PDF


References

Anantanasuwong, D. 2001. Shrimp Farming in Coastal Areas in Thailand and the Proposed Economic Instruments for Sustainable Shrimp Farming. Article Ritsumeikan International Study

Bosma, R.H & M.C.J. Verdegem. 2011. Sustainable aquaculture in ponds: Principles, practice and limits. Livestock Science. 139 : 58-68

Ditjen Perikanan Budidaya. 2004. Statistik Perikanan Budidaya Indonesia 2000. Jakarta

Ditjen Perikanan Budidaya. 2015. Rancangan Rencana Strategis Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Tahun 2015-2019

FAO/NACA/UNEP/WB/WWF. 2006. International Principles for Responsible Shrimp Farming. Network of Aquaculture Centres in Asia-Pacific (NACA). http://www.enaca.org/uploads/international-shrimp-principles-06.pdf

Frankic, A & H. Carl. 2003. Sustainable aquaculture: Developing the promise of aquaculture. Kluwer Academic Publisher. Aquaculture International. 11: 517-530

Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2017. Produktivitas Perikanan Indonesia. Forum Merdeka Barat 9. Kementerian Komunikasi dan Informatika. Jakarta 19 Januari 2018

Mustafa, H. 2000. Teknik Sampling. Penerbit Erlangga. Jakarta

Nurwadjedi., B. Mulyanto, S. Sabiham, A. Poniman & Suwardi. 2010. Indeks keberlanjutan lahan sawah untuk mendukung penataan ruang (Studi Kasus di Kabupaten Jember, Jawa Timur). Jurnal Tanah dan Iklim. 32

Ostrom, E. 2000. Collective action and the evolution of social norms. Journal of economic perspectives. 14 (3) : 137-158

Samuel-Fitwi, B., S. Wuertz, J.P. Schroeder & C. Schultz. 2012. sustainability assesment tools to support aquaculture development. Journal of Cleaner Production. 32 : 183-192.

Setiawan, Y., D.G. Bengen, C. Kusmana & S. Pertiwi. 2015. Estimasi nilai eksternalitas konversi hutan mangrove menjadi pertambakan di delta mahakam Kabupaten Kutai Kartanegara. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman. 12 (3) : 201-210

Sidik, A.S. 2010. The changes of mangrove ecosystem in mahakam delta, Indonesia: A complex social – environmental pattern of linkages in resources utilization. Borneo Research Journal. 4 : 27- 46

Sohel, M.S.I & M.H. Ullah. 2012. Ecohydrology: A framework for overcoming the environmental impacts of shrimp aquaculture on the coastal one of bangladesh. Ocean and Coastal Management. 63 : 67-78

Suadi & H. Saksono. 2014. Pengembangan Perikanan Budidaya secara Berkelanjutan di Pesisir Selatan Daerah Istimewa Yogyakarta. Laporan Penelitian Hibah Fakultas Pertanian UGM 2014. (Tidak Dipublikasi)

Sugiyono, 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta. Bandung

Suharti, S., D. Dudung, N. Bramasto & S. Leti. 2016. Kelembagaan dan perubahan hak akses masyarakat dalam pengelolaan hutan mangrove di Sinjai Timur, Sulawesi Selatan. Jurnal Sosiologi Pedesaan. 165-175

Walgito, B. 2009. Psikologi Sosial: Suatu Pengantar. Penerbit ANDI. Yogyakarta



DOI: https://doi.org/10.22146/jfs.36520

Article Metrics

Abstract views : 200 | views : 198

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2020 Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Indexed by:

 

 

View My Stats