IPTEK bagi Masyarakat Perbatasan Entikong dalam Pengolahan Kerajinan Bambu

  • Gusti Eva Tavita Fakultas Kehutanan, Universitas Tanjungpura, Pontianak
  • Warsidah Warsidah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Tanjungpura, Pontianak
  • Anthoni B. Aritonang Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Tanjungpura, Pontianak
  • Asri Mulya Ashari Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura, Pontianak
Keywords: Gigantochloa Hasskarliana Kurz, Crafts, Processing, Borders, Entikong

Abstract

Entikong is one of Indonesia's land border areas with Sarawak Malaysia, which is the gateway for economic and business activities. Despite being the front porch of a country, the fact is that the border areas of the State are very conditioned with lag. Limited access to public service resources and the inadequate community ability in processing natural resources including agriculture and plantations are the dominant factors influencing the lag of a border area. Bamboo is one of the abundant forest products in Entikong. The use of bamboo in the community is still limited to its use as building materials (scaffolding) and as a protective fence for plants in the gardens of the citizens. Bamboo Rope (Gigantochloa hasskarliana Kurz) species of bamboo found in the Entikong region, where elsewhere it generally makes it as a household handicraft material, but has not been used effectively in the entikong region. Community service activities aim to improve the skills of the Entikong community in processing bamboo plants as handicrafts of household goods of economic value so that it can be an additional source of income for the people on the border

=====

Entikong adalah wilayah perbatasan darat Indonesia dengan Sarawak Malaysia, yang menjadi gerbang kegiatan ekonomi dan perniagaan. Meskipun menjadi beranda depan dari suatu negara, kenyataannya bahwa wilayah batas negara sangat sarat dengan ketertinggalan. Keterbatasan mengakses sumber-sumber pelayanan masyarakat dan kemampuan masyarakat yang tidak memadai dalam mengolah sumber daya alam termasuk pertanian dan perkebunan merupakan faktor yang dominan memengaruhi ketertinggalan sebuah wilayah perbatasan. Bambu adalah salah satu hasil hutan yang kelimpahannya besar di daerah Entikong. Pemanfaatan bambu dalam masyarakat masih terbatas pada penggunaannya sebagai bahan bangunan (perancah) dan sebagai pagar pelindung tanaman di kebun-kebun warga. Bambu tali (Gigantochloa hasskarliana Kurz.) adalah salah satu spesies bambu yang terdapat di wilayah Entikong. Di tempat lain umumnya menjadikannya sebagai bahan kerajinan rumah tangga, tetapi belum dimanfaatkan secara efektif di wilayah Entikong. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertujuan untuk meningkatkan keterampilan warga masyarakat Entikong dalam mengolah tanaman bambu sebagai kerajinan alat-alat rumah tangga yang bernilai ekonomis sehingga dapat menjadi sumber penghasilan tambahan masyarakat di perbatasan tersebut.

References

Anhar Firdaus, M. (2013). Rekayasa Pembuatan Mesin Strip Bambu (Engineering The Construction Of Stripper Machines In Bamboo Production). Jurnal Riset Industri Hasil Hutan, 5(2), 37–44.
Arhamsyah, A. (2009). Pengolahan Bambu Dan Pemanfaatannya Dalam Usaha Pengembangan Industri Kecil Menengah Dan Kerajinan. Jurnal Riset Industri Hasil Hutan, 1(2), 30. https://doi.org/10.24111/jrihh.v1i2.889
Danaatmadja, O. (2007). Bambu, Tanaman Tradisional yang Terlupakan. https://anekaplanta.wordpress.com/2007/12/21/bambu-tanaman-tradisional-yang-terlupakan/
Djoko Marihandono. (2011). Wilayah Perbatasan Kalimantan Barat : Sumber sejarah dan Permasalahannya. Paradigma, Jurnal Kajian Budaya, 1(2), 132–151.
Fariastuti, F. (2002). Mobility of People and Goods across the Border of West Kalimantan and Sarawak. Antropologi Indonesia, 0(67), 18–21. https://doi.org/10.7454/ai.v0i67.3432
Feneteruma, L. (2017). Tinjauan Buku: Pembangunan Sosial Di Wilayah Perbatasan Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Jurnal Masyarakat Dan Budaya, 19(3), 485. https://doi.org/10.14203/jmb.v19i3.549
Krisdianto, Ginuk Sumarni, dan A. I. (1995). Sari Hasil Penelitian bambu. In Pusat Penelitian Hasil Hutan (Vol. 246).
Midgley, J. (2005). Pembangunan sosial perspektif pembangunan dalam kesejahteraan sosial. Ditperta Islam Departemen Agama RI Jakarta.
Prasojo, Z. H. (2013). Dinamika Masyarakat Lokal Di Perbatasan. Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan, 21(2), 417. https://doi.org/10.21580/ws.2013.21.2.252
Pratiwi, A. R., Ustriyana, I. N. G., & Djelantik, A. A. . W. S. (2018). Analisis Potensi Ketersediaan Tanaman Bambu dan Pemasaran Kerajinan Bambu di Desa Kayubihi Kecamatan Bangli Kabupaten Bangli. Jurnal Agribisnis Dan Agrowisata (Journal of Agribusiness and Agritourism), 7(3), 405. https://doi.org/10.24843/jaa.2018.v07.i03.p10
Setiawaty, E. dan M. (2006). Analisis Pemanfaatan Bambu Dalam Industri Dan Kerajinan Ditinjau Dari Aspek Sifat Fisik Dan Mekanik Dan Prospeknya Di Masa Yang Akan Datang. Warta Balai Industri Banjarbaru, Balai Riset Dan Standardisasi Industri. Banjarbaru, XXI(01).
Sudiar, S. (2015). Pembangunan Wilayah Perbatasan Negara: Gambaran Tentang Strategi Pengelolaan Kawasan Perbatasan Darat di Provinsi Kalimantan Utara. Jurnal Administrative Reform, 3(4), 489–500.
Sumardika, S. P., Sudana, I. W., & Hasmah. (2015). Potensi dan Permasalahan Kerajinan Anyaman Bambu Di Desa Tri Rukun, Kabupaten Boalemo, Provinsi Golontalo. E-Journal Mahasiswa Fakultas Teknik.
Sutaat. (2012). Pemberdayaan Masyarakat Daerah Perbatasan Antar Negara: Studi Permasalahan, Kebutuhan dan Sumberdaya Sosial Desa Jagoi, Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Sosiokonsepsia, 17(01), 52–71.
Vinsensia, M., Herawatiningsih, R., & Tavita, G. E. (2020). Keanekaragaman Jenis Bambu Di Kawasan Kebun Raya Sambas Kecamatan Subah Kabupaten Sambas Provinsi Kalimantan Barat. Jurnal Hutan Lestari, 8(1), 10–21. https://doi.org/10.26418/jhl.v8i1.39281
Published
2021-10-27
Section
Articles