Representasi Perempuan dalam Narasi Pameran dan Isu Berkelanjutan: Menginterpretasikan Ulang Koleksi Lukisan Kamasan

  • Ayu Dipta Kirana Prodi Pendidikan Sosiologi Antropologi, Universitas Sebelas Maret
Keywords: representasi, gender, SDGs, kuratorial, lukisan Kamasan

Abstract

Museum sebagai lembaga budaya memiliki kekuatan untuk berkontribusi nyata dalam mempromosikan dan menyajikan berbagai isu sosial yang relevan yang berkaitan dengan tujuh belas kunci SDGs, termasuk Gender Equality. Memperbincangkan gender dalam representasi pameran dapat menjadi upaya museum untuk membuka ruang diskusi terhadap isu perempuan dan narasi saat ini. Tulisan ini akan membahas pembuatan narasi kuratorial hingga praktik representasi perempuan yang relevan pada hari ini dengan berbasis media artefak-artefak kuno yang masih banyak dipengaruhi oleh pemikiran kolonialisme. Studi kasus yang diangkat ialah koleksi lukisan Kamasan dari Bali yang menjadi bagian dari pameran dengan tema perempuan di museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Metode penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui pengumpulan data observasi-partisipatoris dan wawancara mendalam untuk melihat bagaimana tim kuratorial dan museum berupaya membangun narasi perempuan dengan artefak kuno diceritakan ulang dengan menyampaikan isu kesetaraan gender hingga isu kekerasan seksual. Penelitian ini hadir sebagai sebuah interpretasi koleksi kolonial yang kemudian dikurasi kembali untuk bisa menyampaikan pesan relevan sesuai dengan zamannya termasuk mengenai wacana gender. Hasil penelitian menunjukkan bahwa museum mampu menghadirkan representasi perempuan objek koleksi, tata praktik kuratorial, dan eksperimen dalam pameran untuk menghidupkan perbincangan mengenai perempuan dan wacana gender.

Published
2025-06-30
How to Cite
Kirana, A. D. (2025). Representasi Perempuan dalam Narasi Pameran dan Isu Berkelanjutan: Menginterpretasikan Ulang Koleksi Lukisan Kamasan. Lembaran Antropologi, 4(1), 1-21. https://doi.org/10.22146/la.20806
Section
Articles