Politik Ruang dan Komodifikasi Reog Ponorogo: Peralihan dari Kesenian Rakyat ke Festival

  • Nursilah Universitas Indonesia
  • S.M. Gietty -
  • T.I. Setyani -
  • M. Yoesoef -
Keywords: Reog Ponorogo, komodifikasi budaya, strategi dekolonial, festivalisasi, ritual pertunjukan

Abstract

Artikel ini mengeksplorasi transformasi Reog Ponorogo dari pertunjukan jalanan berbasis komunitas menjadi tontonan festival yang terlembaga, dengan fokus pada interaksi antara politik spasial, komodifikasi budaya, dan perlawanan artistik. Mengacu pada teori dekolonial, produksi ruang Lefebvre, dan antropologi festival Falassi, penelitian ini menggunakan metode etnografi, termasuk observasi partisipan, wawancara mendalam, dan analisis dokumen yang dilakukan di Ponorogo, Jawa Timur. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa festivalisasi mengubah konfigurasi ruang ritual reog, menggesernya dari ritual komunal partisipatif menjadi pertunjukan berorientasi pasar, yang seringkali mengorbankan akar spiritual dan improvisasinya. Terlepas dari insentif ekonomi, banyak penampil terus menolak komodifikasi dengan mempertahankan pertunjukan di ruang terbuka informal. Tindakan perlawanan ini merepresentasikan strategi dekolonial yang menegaskan kembali otonomi budaya dan menantang narasi hegemonik tentang keaslian yang dipaksakan oleh negara dan industri pariwisata. Studi ini berkontribusi pada dekolonisasi studi pertunjukan dengan menekankan ekspresi budaya yang berpusat pada komunitas dan mengadvokasi kebijakan inklusif yang mengakui legitimasi praktik pertunjukan informal.

Published
2025-12-19
How to Cite
Nursilah, S.M. Gietty, T.I. Setyani, & M. Yoesoef. (2025). Politik Ruang dan Komodifikasi Reog Ponorogo: Peralihan dari Kesenian Rakyat ke Festival. Lembaran Antropologi, 4(2), 128-141. https://doi.org/10.22146/la.26317