RELASI-RELASI KEKUASAAN DI BALIK PENGELOLAAN INDUSTRI PARIWISATA BALI

https://doi.org/10.22146/jh.1057

I Nyoman Wijaya(1*)

(1) 
(*) Corresponding Author

Abstract


Pengetahuan yang tersembunyi di balik wacana pariwisata dalam pidato kenegaraan Presiden Soeharto 16 Agustus 1968 dijadikan kekuasaan oleh pemerintah daerah Bali dengan cara mengeluarkan ungkapan wacana Pariwisata Budaya. Akan tetapi, pariwisata yang semula diharapkan mampu menjadi
salah satu sumber devisa negara, mengalami kemandekan tahun 1976 dan berlangsung selama satu dekade. Hal itu memberikan peluang bagi intelektual organik konservatif dari berbagai aliran untuk meraih kepentingan kelompok masing-masing. Itulah sebabnya di balik pengelolaan industri pariwisata
tersembunyi relasi-relasi kekuasaan. Fenomena tersembunyi itu diterangkan dalam studi ini dengan memakai kerangka berpikir Michel Foucault tentang Power And Knowledge. Penggunaan kerangka berpikir itu memudahkan penerapan metode sejarah mulai dari heuristik hingga sintesis. Melalui cara kerja itu, dapat diketahui hampir semua intelektual organik konservatif yang memiliki kekuasaan
berbicara berhasil menangkap pengetahuan tersembunyi di balik ungkapan wacana Pariwisata Budaya untuk kepentingan kelompok masing-masing.

Kata Kunci: pariwisata budaya, PKB, Ekadasarudra, invented art, intelektual organik


Full Text:

PDF



DOI: https://doi.org/10.22146/jh.1057

Article Metrics

Abstract views : 2804 | views : 2821

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2012 I Nyoman Wijaya

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.



free web stats Web Stats

ISSN 2302-9269 (online); ISSN 0852-0801 (print)
Copyright © 2022 Humaniora, Office of Journal & Publishing, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada