Wayang Golek Menak sebagai Media Dakwah Islam

https://doi.org/10.22146/jh.1946

Kun Zachrun Istanti(1*)

(1) 
(*) Corresponding Author

Abstract


Salah satu makna kata "wayang" adalah bayangan angan-angan, yaitu menggambarkan nenek moyang dalam angan-angan. Oleh karena itu, dalam merciptakan segata bentuk wayang selalu dlsesuaikan dengan tingkah laku tokoh yang dibayangkan dalam angan-angan. Sebagai contoh, orang baik dgambarkan badannya lurus, mukanya tajam, sedangkan orang jahat digambarkan dengan bentuk mulut yang besar, muka lebar, dan sebagainya (Jasawi-dagdo dalam Zarkasi, 1977:21).Wayang golek dibentuk seperti manusia, dibuat dari kayu jaranan, kayu kemiri, dan kayu mentaos (Kuswaji. 1957:10). Wayang golek atau disebut wayang tengul biasanya menceritakan cerita Menak yang sejak dahulu jarang dipentaskan secara tuntas (menyeluruh) seperti halnya wayang purwa. Hal ltu terjadi karena terlalu banyak carangan cerita dengan dasar pola yang sama sehinggacenderung agak membosankan. Wayang golek itu serdiri tidak sepopuler ceritanya (dalam hal ini cerita Menak). Cerita Menak dianggap sebagai karya sastra yang terkenal sebab merupakan cerita kepahlawanan yang disela~selingi dengan adegan percintaan.

Keywords


dakwah, golek, Islam, media, menak, wayang

Full Text:

PDF



DOI: https://doi.org/10.22146/jh.1946

Article Metrics

Abstract views : 1706 | views : 1720

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2013 Kun Zachrun Istanti

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.



ISSN 2302-9269 (online); ISSN 0852-0801 (print)
Copyright © 2020 Humaniora, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada