Inovasi dalam cerita Ketoprak Anglingdarma

https://doi.org/10.22146/jh.786

Akhmad Nugroho(1*)

(1) 
(*) Corresponding Author

Abstract


Ketoprak, sebagai salah satu jenis teater daerah Jawa, pertama kali muncul di Yogyakarta sekitar tahun 1925. Cerita yang dipentaskan mula-mula bersumber dari dongeng seperti Jaka Tarub, Piti Tumpa, dan Panji, kemudian meningkat ke cerita adaptasi seperti Menak, Sam Pek Ing Tay, dan Si Jin Kui (Harymawan, l993:229). Dari segi cerita itulah, ketoprak menunjukkan adanya perubahan sesuai dengan kreativitas pengarangnya.

Kebaruan-kebaruan juga terjadi pada sastra daerah lain di Indonesia ini., seperti dalam sastra daerah Minangkabau, drama Puti Bungsu karya Wisran Hadi adalah resepsi warisan budaya lama Minangkabau yang diciptakan kembali sesuai dengan konteks masa kini (Teeuw, l988:216). Wisran Hadi dalam dramanya itu menggunakan beberapa sumber, pertama-tama tentu saja Malin Kundang, kemudian kedua Malin Deman, dan bahkan mengambil sumber yang ketiga Sangkuriang dari Sunda (Junus, l985:39). Wisran Hadi juga menulis teks sandiwara Cindua Mato yang dapat dihubungkan dengan mitos Minangkabau Cindua Mato, tampak hubungan tradisi dan modernitasnya (Esten, l992).

Full Text:

PDF



DOI: https://doi.org/10.22146/jh.786

Article Metrics

Abstract views : 1435 | views : 2212

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2012 Akhmad Nugroho

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.



free web stats Web Stats

ISSN 2302-9269 (online); ISSN 0852-0801 (print)
Copyright © 2022 Humaniora, Office of Journal & Publishing, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada