"Aku" dalam Semiotika Riffaterre Semiotika Riffaterre dalam "Aku"

https://doi.org/10.22146/jh.1942

Faruk Faruk(1*)

(1) 
(*) Corresponding Author

Abstract


Tak dapat di ragukan lagi Chairil Anwar adalah seorang penyair besar. Setiap tahun, hingga sekarang, karya-karyanya masih terus diperingati, direproduksi, dibaca, dan direpresentasikan. Yang akan dibicarakan dalam makalah ini hanya salah satu puisi penyair tersebut, yaitu "Aku" yang terhimpun dalam kumpulan Deru Campur Debu (1965). Pilihan atas "Aku" ini dapat dianggap semaunya, tetapi dapat pula atas dasar tingkat popularitasnya yang cukup tinggi. Yang mendorong pemahaman kembali puisi-puisi lama seperti karya Chairil di atas bukan semata-mata kenyataan subjektifnya. Apabila dilihat dari caranya, kedua pembacaan mengenai karya-karya Chairil di atas tidak hanya terjadi karena kualitas internal karya-karya penyair itu sendiri, melainkan juga karena terjadinya perubahan cara pandang terhadap estetika dan bahkan kehidupan secara keseluruhan.

Keywords


Aku, Chairil Anwar, estetika, puisi, semiotika riffaterre

Full Text:

PDF



DOI: https://doi.org/10.22146/jh.1942

Article Metrics

Abstract views : 7635 | views : 9940

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2013 Faruk Faruk

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.



free web stats Web Stats

ISSN 2302-9269 (online); ISSN 0852-0801 (print)
Copyright © 2022 Humaniora, Office of Journal & Publishing, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada