EKSPRESIONISME DALAM KARYA FRANS KAFKA "A HUNGER ARTIST"

https://doi.org/10.22146/jh.2027

Juliasih Juliasih(1*)

(1) 
(*) Corresponding Author

Abstract



Ekspresionisme ialah suatu airan dalam dunia seni khususnya seni lukis dan sastra yang menekankan pada kebebasan seorang seniman untuk melawan gejolak hati sepenuhnya. Emosi dimuntahkan secara irasional dan visioner (Hartoko, 1985,64)
Aliran ini pertama kali muncul di Jerman pada tahun 1916-1925 yaitu periode sebelum dan sesudah Perang Dunia I. Van Gogh dan Paul Gauguin adalah pelopor aliran ini, sedangk n dalam bidang sastra pelopornya adalah penyair Baudelaire dan Rimbaud, novelis Dostoevsky, filusuf Niet zsche, dan dramawan August Strindberg. Dari karya Frans Kafka ini pertama kali yang menarik untuk dibicarakan adalah judul cerita itu sendiri yang mengundang beberapa pertanyaan. Siapakah sebenarnya si seniman terebut? Apakah seniman tersebut benar-benar kelaparan atau lapar akan sesuatu? Dan mengapa dia sampai kelaparan? Setelah ditelesuri dari awal sampai akhir cerita ternyata Frans Kafka sama sekali tidak memberi nama khusus pada si seniman. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa apa yang dialami oleh si seniman mungkin saja dapat terjadi pada setiap manusia, khususnya seniman. Sampai disini interpretasi itu dapat diterima, tetapi sampai pada kata "hunger" yang berarti lapar atau kelaparan maka interpretasi "A Hunger
Artis" yang dipakai sebagai judul menjadi tidak masuk akal, apalagi kalau dihubungkan dengan cerita secara keseluruhan.

Keywords


Frans Kafka, ekspresionisme, emosi, sastra, seniman

Full Text:

PDF



DOI: https://doi.org/10.22146/jh.2027

Article Metrics

Abstract views : 3634 | views : 3246

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2013 Juliasih Juliasih

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.



free web stats Web Stats

ISSN 2302-9269 (online); ISSN 0852-0801 (print)
Copyright © 2022 Humaniora, Office of Journal & Publishing, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada