More About Journal
Vol 2 No 2 (2023)
Berdiri mengenakan kebaya, mengepal tangan, dan menggenggam ikat ageman padi. Ilustrasi perempuan yang menolak “didudukkan” dalam kebaya sebagai busana perlawanan, menjadi representasi edisi saat ini. Berkebaya, belum lepas dari ikatan patriarki dibalik adaptasi peran komunitas urban dalam mengenalkan dinamisnya sandang tersebut. Pilihan yang kini diakui sebagai wacana 'sandang bersama' justru menampilkan terhentinya keragaman representasi sosial. Kemandirian, sepintas mencerminkan bahwa beban ganda dari kerja domestik hingga ranah penghasil kecukupan ekonomi praktis masih terdikotomi sebagai perdebatan, ketika cerita keseharian terhadap apa itu identitas nasional serta upaya menyingkap ketimpangan sosial masih terus berkelindan. Lantas, kami berharap agar pembaca tidak lelah mendiskusikan fenomena kritis sehari-hari di sekitar kita. Selamat membaca!
Editorial
Articles
-
Dari Entek Amek ke Entek Golek: Perempuan dan Perubahan di Gunungkidul
Abstract views: 724
|
views: 1346
-
Melek Politik Sejak Dini: Kaum Muda Jerman yang Berpolitik dalam Grüne Jugend
Abstract views: 402
|
views: 465
-
Voluntarism Rationality in Norway: The Relevance of Ferie for Alle
Abstract views: 543
|
views: 408


