Terbitan
ARNAWA menerapkan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License, dengan hak cipta atas artikel yang diterbitkan berada pada jurnal. Penulis diwajibkan untuk mengalihkan hak cipta kepada jurnal setelah artikel dinyatakan diterima untuk publikasi.
Jurnal ini memperoleh lisensi non-eksklusif untuk menerbitkan artikel sebagai penerbit pertama (original publisher), termasuk hak komersial untuk menerbitkan edisi cetak yang dapat diperjualbelikan.
Sebagai jurnal akses terbuka (open access), penulis diperkenankan untuk memublikasikan artikel yang telah diterbitkan di situs web pribadi maupun repositori institusi, baik sebelum maupun setelah publikasi, dengan tetap mencantumkan informasi bibliografis yang memberikan kredit kepada ARNAWA sebagai sumber publikasi pertama.
Kesempatan Penelitian Ejaan Naskah di Era Digital: Uji Coba Pengamatan Perilaku Huruf Berdasarkan Metode Willem Van Der Molen
Corresponding Author(s) : Styan Lintang Sumiwi
Arnawa,
Vol 1 No 2 (2023): Edisi 2
Abstrak
This paper draws on Peter Worsley's idea in 1972 to catalog errors and spelling conventions of a manuscript that would be useful in uncovering its copying tradition. The spelling aspect of the theory has never been fully implemented, including Worsley himself. Willem van der Molen (1983) attempted to implement spelling analysis by looking at the behavior of each script in each manuscript, but he only tried it with two letter variations. He couldn't complete the work due to the large amount of data involved, which took too long. Current advances in information technology have made it possible to automate text data processing that previously had to be done manually. This research reviews the method offered by Willem van der Molen and shows how computing technology helps in such analysis.
===
Tulisan ini berangkat dari gagasan Peter Worsley pada tahun 1972 untuk membuat katalog kesalahan dan konvensi ejaan suatu naskah yang berguna dalam mengungkap tradisi penyalinannya. Aspek ejaan dalam teori tersebut belum pernah diimplementasikan secara tuntas, termasuk oleh Worsley sendiri. Willem van der Molen (1983) mencontohkan implementasi analisis ejaan dengan cara memperhatikan perilaku setiap aksara pada setiap naskah, namun ia hanya mencobanya pada variasi dua huruf. Analisis tersebut tidak dapat ia selesaikan karena cakupan data yang besar sehingga memakan waktu terlalu lama. Kemajuan di bidang teknologi informasi yang ada saat ini telah memungkinkan otomatisasi pengolahan data teks yang sebelumnya harus dilakukan secara manual. Penelitian ini dilakukan sebagai tinjauan ulang atas metode yang ditawarkan Willem van der Molen dan memperlihatkan bagaimana teknologi komputasi bermanfaat dalam analisis tersebut.
Unduh Kutipan
Endnote/Zotero/Mendeley (RIS)BibTeX
- Blake, N., & Thaisen, J. (2004). Spelling’s Significance for Textual Studies. Nordic Journal of English Studies, 3(1), 93. https://doi.org/10.35360/njes.24
- Caon, L. (2008). Authorial or scribal ? Spelling variation in the Hengwrt and Ellesmere manuscripts of The Canterbury tales. Lot.
- Creese, Helen. (1998). Pārthāyaṇa = The journeying of Pārtha: An eighteenth-century Balinese kakawin. KITLV Press.
- McIntosh, A., M.L. Samuels, Michael Benskin, Margaret Laing, & Keith Williamson. (1986). A linguistic atlas of late mediaeval English (Vol. 2). Aberdeen University Press.
- Robson, S. O. (1994). Prinsip-prinsip filologi Indonesia (Kentjanawati Gunawan, Penerj.). RUL.
- van der Molen, W. (1983). JAVAANSE TEKSTKRITIEK: EEN OVERZICHT EN EEN NIEUWE BENADERING GEÏLLUSTREERD AAN DE KUNJARAKARNA. Foris [Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde].
- van der Molen, W. (2011). Kritik teks Jawa: Sebuah pemandangan umum dan pendekatan baru yang diterapkan kepada Kunjarakarna (1 ed.). Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
- Wilkens, M. (2015). Digital Humanities and Its Application in the Study of Literature and Culture. Comparative Literature, 67(1), 11–20. https://doi.org/10.1215/00104124-2861911
- Worsley, P. J. (1972). Babad Bulelen: A Balinese Dynastic Genealogy. The Hauge : Martinus Nijhoff.